Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ( SIS )
Sang Pemimpin Pencerah, Teladan Kedermawanan,
Sosok Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Dalam Sebuah Catatan Perenungan
Oleh : Zainuddin Tambuala
Para abnaul khairaat, para pecinta setia Guru tua yang berbahagia..
Mengawali pidato singkat haul seputaran manaqib Guru besar kita Guru tua mari Bersama kita persembahkan kiriman alfaatihah buat beliau berikut anak2 dan cucu2 beliau yang sudah mendahului !
Guru tua, itulah julukan penuh berkah yang sangat familiar dari sosok SIS Al Jufrie bagi keluarga besar Alkhairaat khususnya dan Masyarakat Sulawesi tengah bahkan di Indonesia bagian timur umumnya.
Kota Taris, yang letaknya berjarak sekitar 60-70 KM ke Kota Saywun atau Seiyun atau Seiwun, yang juga berjarak sekitar 35 KM dari kota Tarim, yang semuanya berada di kawasan Lembah Propinsi Hadhramaut. Kota-kota ini merupakan kota-kota tertua di Yaman yang dikenal dengan Sejarah kunonya, jalur penting perdagangan antara Yaman dan India. Juga daerah pemilik arsitektur yang unik sekaligus menjadi salahsatu dari kota pertama di Yaman yang menerima Islam. Juga sesuatu yang tidak dapat dipungkiri merupakan tempat kelahiran beberapa ulama dan cendikiawan Islam tersohor.
Nah, Kota Taris inilah ditakdirkan menjadi tempat kelahiran SIS Al jufrie pada hari Senin tanggal 14 sya’ban 1309 H bertepatan 14 maret 1892 M. 135 atau 137 tahun yang lalu.
Beliau adalah putra ke-Empat dari enam orang bersaudara dari pasangan Sayyid Salim Bin Alwi Aljufrie dan Syarifah Nur binti Muhammad Aljufrie putri mulia dari Wajo, Sengkang Sulawesi Selatan. Yang masih berdarah Bugis berkaitan dengan arung Matoa, Raja Wajo Sengkang.
Beliau dilahirkan dari keluarga yang dikenal sarat dengan keilmuan, kesantunan, keshalehan dan ketaqwaannya. Ayah beliau tersebut diatas merupakan seorang Allamah alhabiib yang pernah diamanahkan sebagai Mufti dan Qadhi Kota Taris.
Sementara kakek beliau yang bernama Sayyid Alwi bin Saqqaf Aljufrie juga seorang alhabiib ahli agama yang dikenal sebagai salahseorang yg mendapat julukan “Alfuqahaa alhadarimah alkhamsah, 5 tokoh ahli hukum Islam Hadramaut. Itulah gambaran singkat dari silsilah keilmuan keluarga beliau.
Adapun sosok Sayyid Idrus Bin Salim, Beliau adalah seorang ulama besar, cendekiawan dan juga pemimpin yang sederhana, berwibawa dan kharismatik juga penuh sikap kedermawanan. Karena sifat-sifat beliau penuh simpatik ini oleh kalangan murid-muridnya dan masyarakat lembah Palu lebih mengenalnya dengan sebutan Guru tua atau Ustad tua. Sudah barang tentu julukan ini mendapat tempat di hati beliau sekaligus bertujuan agar masyarakat lebih merasa dekat dan akrab dalam menerima dakwahnya.
Setelah menjalani skenario kehidupan yang sarat perjuangan demi perjuangan penuh keberkahan akhirnya ajal yang telah ditentukan sang Khaliq tiba . Beliau wafat tepat pada tanggal 12 syawal 1389 H atau bertepatan tanggal 22 Desember 1969 M di Palu Sulawesi tengah. Tepat di usia beliau 80 tahun dalam hitungan hijriah atau 79 tahun hitungan masehi.
Peran Sang Ayah Sayyid Salim peletak dasar didikan kepada Sayyid Idrus bin Salim
Sayyid Idrus diasuh dan dididik langsung oleh ayah kandungnya sendiri Sayyid Salim Aljufrie. Beliau sosok Ulama besar penuh kharisma dan wibawa di Hadramaut. Dalam penuntutannya sang anak dikenal sangat tekun dan rajin belajar, serta cermat mengatur dan mengisi waktunya. Sehingga dalam waktu relatif singkat Sayyid Idrus telah memiliki dan menguasai pengetahuan yang luas yang menjadikannya disegani dan dikagumi rekan-rekan sepenuntutan kala itu. Maka tidaklah heran di usia 17 tahun beliau telah mendapatkan kepercayaan menjadi sekretaris Mufti mendampingi sang Ayah Sayyid Salim selaku Mufti di Hadramaut. Namun kehendak Allah berkata lain di usia menginjak 18 tahun sang Ayah tercinta pendidik sejati meninggal dunia. Ia pun di tahun 1916 atas penunjukan dari Sulthan Hadramaut Penguasa kala itu menggantikan sang ayah tercinta selaku Mufti dan Qadhi, suatu jabatan yudikatif yang tidak dapat dipercayakan kecuali kepada sosok yang tepat yakni berpengetahuan luas, penuh kharisma dan wibawa. Tepat pada waktu yang sama beliau juga harus melanjutkan estafeta amanah dari sang ayah Sayyid Salim mengelola dan memimpin lembaga pendidikan bernama“ Alkhairaat ”di Taris Hadramaut. Yang di kemudian hari akan memancarkan sinar cahayanya di lembah Kaili dan bahkan hampir di seluruh bagian Timur Indonesia tercinta.
Menurut penuturan Sayyid Saggaf bin Muhammad bin Idrus Aljufrie Sang cucu, bahwa sampai saat ini lembaga yang dikelola kakek beliau masih terpelihara dengan baik sesuai fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Dan hal ini dapat dibuktikan beberapa waktu yang lalu disebabkan para ahli waris sudah tidak ada lagi yang berdomisili di Hadramaut maka Sang Cucu dan Rombongan bertolak ke hadramaut untuk perihal pengurusan surat kuasa sehingga fungsi pendidikan dari lembaga tersebut dipastikan tetap terpelihara dan berjalan dengan baik. Alhamdulillah bini’matihi tatimmu ashshalihat…
Dapat disimpulkan bahwa ketokohan dan keluasan ilmu pengetahuan Sayyid Idrus banyak diwarnai sang ayah Sayyid Salim bin Alwi Aljufrie. Waktu mudanya tidak ada yang terbuang percuma. Sehingga dengan dilandasi ilmu pengetahuan yang luas ditambah pergaulan dekat dan luas dengan para ulama besar di zamannya beliau memiliki sikap bijaksana dan matang dalam pengambilan keputusan-keputusan yang selalu tepat.
Dari Yaman menuju Palu
Sesungguhnya kedatangan Sayyid Idrus ke Nusantara (nama Indonesia sebelum merdeka) melalui dua tahapan. Yang pertama, sekitar tahun 1909 di usia 17 tahun bersama sang ayah tercinta Sayyid Salim bin Alwi Aljufrie dalam rangka mengunjungi keluarga yang ada di Jawa dan Sulawesi. Sedangkan kedatangan beliau yang kedua kalinya tepat di tahun 1922 M/1340-1341H di usia beliau 30 tahun selang 13 tahun kemudian.
Pada kedatangan kedua kali inilah berkaitan dengan pergolakan di tanah airnya dalam rangka perjuangan menentang penjajahan Inggris dan agen-agennya di negrinya. Taqdir Allah ta’ala mengantarkan beliau sempat tinggal di Batavia ( Jakarta ) untuk beberapa waktu. Lalu kemudian pindah ke Pekalongan. Setelahnya pindah ke Jombang, Jawa timur dan bermukim disana selama sekitar 2 tahun. Di Jombang ini rumah yang menjadi tempat tinggal beliau setiap hari menjadi tempat persinggahan para peziarah dari sahabatnya, teristimewa para penuntut ilmu. Dari mereka lah majlis-majlis ilmunya menjadi sangat aktif. Disini jugalah beliau berkesempatan bertemu dengan Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang notebene memiliki pula garis keturunan ke Nabi Besar Muhammad Rasulullah shallaLlahu alaihi wassalam.
Dari Jombang lalu ke Solo Jawa Tengah. Dan atas permintaan utusan dari Rabithah Alawiyah ke beliau untuk menjadi pengajar di Solo, beliau pun menyahuti memilih menjadi guru sekaligus dipercayakan menjadi Direktur madrasah Rabithah Alawiyah di Solo. Setelah lebih kurang 2 tahun memimpin, madrasah tersebut mencapai kemajuan yang signifikan. Seiring waktu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan beliau pun mengajukan pengunduran diri dan pernyataan berhenti dari jabatannya.
Kemudian beliau tinggalkan Solo dan berlayar menuju Sulawesi Utara untuk mengunjungi kedua kakaknya yang sudah lebih dahulu bermukim Tondano, yaitu Sayyid Syaikh bin Salim Al jufrie dan Sayyid Alwi bin Salim Al Jufrie. Sebelum sampai ke Tondano, Sayyid Idrus menyempatkan diri singgah di Donggala tepatnya di Wani. Mengingat di Daerah ini telah hadir pula komunitas arab yang ditengarai memiliki hubungan kekerabatan dengan Sayyid Idrus.
Menurut keterangan Sayyid Saggaf bin Muhammad bin Idrus Aljufrie, bahwa pada awal mulanya Sayyid Idrus berkeinginan kuat untuk membuka madrasah di Wani atas dorongan Masyarakat Wani kala itu yang dipelopori oleh Sayyid Mahmud Al Rifa’i. Namun Hasrat kuat tersebut diketahui para tokoh komunitas Arab di Palu. Saat itu pula rombongan dari Palu menjumpai Sayyid Idrus di Wani. Dalam rombongan tersebut antara lain ada sosok bernama Sayyid Abdurrahman bin Husen Al jufrie.
Mereka mendesak kepada Sayyid Idrus agar rencana pembukaan madrasah dialihkan ke Palu bukan di Wani. Setelah melalui musyawarah dan mendapatkan persetujuan dari semua pihak saat itu dialihkanlah semua asset madrasah termasuk murid-muridnya ke Palu. Dan ternyata di Palu pun telah disediakan ruangan darurat dari toko milik H. Quraisy di kampung Ujuna. Tidak berapa lama lalu berpindah ke rumah almarhum H. Dg. Maarotja di Kampung Baru. Dan sosok H. Dg Marotja ini masih memiliki hubungan dekat dengan raja Palu.
Sekilas Palu sebelum kedatangan sayyid Idrus bin Salim Al jufrie
Masyarakat Palu dan sekitarnya kala itu sudah menganut agama mayoritas muslim. Hanya saja beberapa praktek kepercayaan tradisional yang notabene warisan nenek moyang masih mendominasi kehidupan sosial Masyarakat. Tradisi kepercayaan itu antara lain, Vunja Vulu Vatu, Vunja Sampai Nokiyo, Vunja Batang pinang atau kelapa, Balia dan Sesajen.
Inilah tradisi-tradisi marak saat itu yang dilandasi kepercayaan dan keyakinan dari Masyarakat lokal. Disamping kondisi sosial diatas terdapat pula upaya Kristenisasi yang disokong kuat oleh pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya tiga organisasi besar penginjil di Sulawesi Tengah, yaitu :
- Indische Kerk ( IK ), berpusat di Daerah Luwuk.
- Nederland Zending Genootschap, berpusat di Tentena
- Leger Dois Heist (LDH) atau Bala Keselamatan yang berpusat Kalavara-Sigi.
Dalam prakteknya ketiga organisasi penginjil diatas, tidak membatasi diri mengajak suku terasing saja, melainkan faktanya juga membidik penduduk yang telah memeluk Islam. Kelihatan nampak sekali Palu saat itu merupakan sasaran empuk yang sangat strategis bagi Gerakan apapun, termasuk Kristenisasi. Momentum pasar Senin dan Jumat adalah wahana paling menawan untuk mendakwahkan ajaran Kristiani.
Itulah sekilas kondisi Masyarakat Palu dan sekitarnya sebelum kedatangan Sayyid Idrus bin Salim Al jufrie. Terlihat jelas bahwa Dakwah Islam dan para pendakwahnya seakan redup dan terkesan “keok” dihadapan situasi dan kondisi diatas. Hal ini tidak mengherankan karena pemerintah Kolonial Belanda memback-up penuh kegiatan-kegiatan tersebut.
Sekilas Palu setelah kehadiran sayyid Idrus bin Salim Al jufrie
Letak Palu, secara geografis bagi yang mencermati dengan seksama akan merasakan kekaguman akan estetikanya. Betapa tidak, sebuah Lembah diapit bentangan pegunungn pada bagian barat, timur dan selatannya serta hamparan mulut teluk Palu pada bagian utaranya.
Bagi Kolonial Belanda pada zamannya dengan menggandeng misi misionarisnya dapat dipastikan lanskap Palu menjadi sasaran empuknya. Ditengah budaya sosial Masyarakatnya yang masih sarat warisan-warisan tradisional para misionaris itu mencoba menancapkan cengkeramannya. Guru tua Sayyid Idrus tiba di Palu dalam situasi dan kondisi seperti itu. Sebagaimana terlihat jelas dalam ungkapan beliau melalui gubahan syairnya, :
فاني رأيت الجهل في الناس فاشيا * فلا خوف من المولى و لا من جهنم
Sungguh aku telah menyaksikan kebodohan menyebar dikhalayak ramai * berupa tidak ada lagi ketakutan alias abai akan Allah dan neraka Jahannam
Kedatangan dan kehadiran Sayyid Idrus di Palu dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Alkhairaat sesungguhnya merupakan anugrah terbesar dari Allah ta’ala dan sekaligus quantum teristimewa bagi Sejarah Sulawesi Tengah khususnya penduduk Asli To Kaili, serta umumnya Indonesia bagian timur.
Semua hal yang terkait peninggalan kepercayaan yang bernuasa khurafat secara berangsur-angsur dapat diatasi bahkan hampir punah berkat kegigihan dan keikhlasan serta kemuliaan perjuangan sayyid Idrus yang dilanjutkan para muridnya dikemudian hari.
Hingga tak dapat dipungkiri fajar baru yang cahayanya terang benderang menyinari Kota Palu dan sekitarnya. Kesan indah ini terekam dalam gubahan syair beliau, :
حمدا لمولاي فالخيرات عامرة * وفى عرانينها أسد و أشبال
Segala puji bagi Tuhanku, karena Alkhairaat menjadi semarak * Di halaman-halamannya terdapat Singa-singa dan anak-anaknya
فيا بني فالو الخيرات أمكم * تدعو لمن لهم قصد و اقبال
Wahai Penduduk Palu, Alkhairaat itu adalah Indukmu * Yang mengajak mereka yang punya tujuan dan tekad
أمست بها أرضكم بالعلم ظاهرة * يؤمها من نواحي الأرض سؤال
Dikarenakan Alkhairaat negrimu menjadi popular dengan ilmu * yang dituju para pencarinya dari berbagai belahan dunia
من بعد ما كان لا يدري بها أحد * أضحت على أكثر البلدان تختال
Padahal sebelumnya tidak ada orang yang mengenalnya * sekarang ia menjadi kebanggaan bagi berbagai negri
Kedermawanan Sayyid Idrus Bin Salim
Adalah sifat-sifat yang menjadi karakter Istimewa yang menonjol yang patut diteladani dari sosok Sayyd Idrus bin Salim, sebagaimana kami kutip secara ringkas dari buku, “SIS AL-JUFRIE PENDIRI ALKHAIRAAT DAN KONTRIBUSINYA DALAM PEMBINAAN UMAT” yang ditulis almarhuma Prof.Dr. Hj. Huzaemah. T. Yanggo. MA Bersama tim, bahwa Sayyid Idrus memiliki sifat dan karakter mulia antara lain;
- Ikhlas, sabar dan takwa
- Satu kata dengan perbuatan
- Mudah terharu dan ramah
- Sangat bersih dan rapi
- Sangat Luwes dan memperhatikan Pendidikan Wanita
- Tidak ada waktu tanpa belajar
- Berani dan teguh pendirian
- Fokus perhatiannya pada pengembangan Pendidikan agama
- Haus ilmu dengan gemar membaca dan Hobby olahraga beladiri dan sepakbola
Hemat kami melihat bahwa kesembilan poin diatas mendapat penjelasan yang cukup dari tim penulis yang dikomandani almarhumah Prof. Huzaemah. Hanya saja sisi dari sifat dan karakter kedermawanan beliau (Sayyid Idrus) belum ditegaskan dalam uraian tim. Padahal karakter yang satu ini merupakan salahsatu kunci utama sukses beliau dalam sepak terjang dakwahnya.
Adalah Rasulullah SAW teladan kita dalam segala hal dari sisi kehidupan seorang Muslim. Terkait kedermawanan beliau kami pilihkan satu Riwayat hadits Sahabat Abdullah bin Abbas r.a :
عن عبدالله بن عباس رضي الله عنهما قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجودَ الناس، كان أجودُ ما يكونُ في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريلُ يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيُدارسه القرآن، فلَرسولُ الله صلى الله عليه وسلم حين يلقاه جبريلُ أجودُ بالخير مِن الريحِ المُرسَلة”؛ متفق عليه
Artinya : Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, alias dermawan. Terlebih hal itu ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.”
الْمُرْسَلَةِ kata yang artinya adalah berhembus dengan cepat. Digambarkan demikian karena kedermawanan Rasulullah lebih cepat daripada hembusan angin. Subhanallah!!!… Dan kedermawanan Rasulullah selalu ada sebagaimana hembusan angin yang selalu ada pula.
Dalam Islam tentu saja kedemawanan tidak hanya terbatas pada memberi uang ataupun harta saja. melainkan ada banyak hal seperti berbagi ilmu, memberikan nasihat yang baik, bahkan senyuman atau kata-kata yang menyenangkan hati orang , juga termasuk dalam sifat kedemawanan seseorang yang sangat disukai dan dihargai dalam Islam.
Misalnya salah satu sarana kedermawanan adalah Ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Memberi ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bentuk kedermawanan yang akan berdampak positif bagi masyarakat, dengan berbagi ilmu akan menciptakan perubahan sosial dikalangan masyarakat, dan membantu individu untuk berubah menjadi individu yang lebih berguna dengan adanya ilmu yang kita bagikan.
Sifat dan karakter yang kokoh dalam diri Sang Panutan SAW diataslah yang menjadi rujukan, sandaran serta benteng keteladanan dalam diri Sayyid Idrus bin Salim. Berikut beberapa momen dari peristiwa yang beragam sempat dihimpun :
- Dalam proses Pembangunan Gedung madrasah dan Masjid Alkhairaat yang notabene membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun berkah ketaqwaan yang tentu saja keikhlasan beliau dalam usaha mendidik anak-anak santri tanpa kenal tempat dan waktu semua dapat teratasi dengan membanjirnya bantuan dari para dermawan yang tidak lagi diketahui dari mana asalnya.
- Rumah beliau yang berdampingan dengan sekolah menjadi rumah terbuka bagi yang datang meminta fatwa, ataupun permintaan lainnya termasuk penyelesaian sengketa antar keluarga dan lain sebagainya. Hal ini muncul dalam gubahan syair beliau yang kelak mesti menjadi contoh teladan bagi abnaulkhairaat dimanapun berada :
وليس لقصد المال و الجاه و انما * لقصد حلول فى جنان التنعم
بيوتهم مفتوحة لمريدهم * فأهلا و سهلا بالمريد الميمم
فهاهي ذي الخيرات من فضل جودهم * تربي بنيها من فقير ويتم
# Bukanlah untuk maksud menimbun harta dan indahnya jabatan yang menjadi tujuan kami * melainkan semata-mata ingin mendapatkan tempat di surga-surga yang penuh keni’matan.
# Rumah-rumah mereka (para pendidik) terbuka lebar bagi para murid yang berdatangan * maka kami ucapkan selamat datang bagi murid kami yang diberkahi.
# Inilah dia para pemangku kebaikan dari keutamaan sifat kedermawanan merekalah para murid yang tidak mampu terdidik dengan baik.
- Sayyid idrus memiliki sifat sangat menyantuni Terlihat dengan jelas dari para murid yang berasal dari luar Palu dalam jumlah yang tidak sedikit ditampung, diasuh dan dilayani segala kebutuhannya tanpa membedakan antara satu dengan lain.
- Sang Sayyid Idrus adalah sosok yang sangat menghargai jasa orang lain. Semisal bila ada yang pernah membantu beliau maka dalam banyak momen nama-nama orang tersebut selalu disebut dalam pembicaraannya. Bahkan tidak hanya demikian, apabila beliau menyuruh orang lain, orang tersebut selalu diberi imbalan sebagai tanda penghargaan atas jasanya.
- Almarhum Drs. H. Rusdi Toana salah seorang tokoh Muhammadiyah di Palu Sulawesi Tengah pernah punya cerita menarik terkait perjuangan Guru Tua. Suatu waktu beliau berdua dipertemukan dalam satu pelayaran bersama menuju Manado pada bulan Desember 1962 untuk tujuan yang sama menghadiri event MUSYAWARAH ALIM ULAMA SULAWESI UTARA DAN TENGAH di Manado. Beliau menjadi saksi bahwa Guru Tua selama dalam kapal bersama para muridnya tetap memanfaatkan waktu untuk membaca buku ( halaqah Qira’ah) dari beragam disiplin ilmu. Sementara Guru tua Nampak sedang menjelaskan satu persatu dengan jelas sambil duduk dalam posisi duduknya yang khas. Bahkan Guru Tua pernah mengatakan kepadanya, bahwa Alkhairaat bukanlah milik partai A dan B atau golongan tertentu lainnya melainkan Alkhairaat adalah milik Umat Islam.
- Salah satu murid beliau bernama ust. Samsudin lamalundu asal Dolo, mengisahkan bahwa, sangat banyak murid Guru Tua bukan hanya sebatas diajar, dididik namun hingga dijodohkan dan dinikahkan bahkan diberikan nafkah berupa tempat tinggal mereka.
- Sayyid Idrus Guru Tua merupakan sosok yang memiliki kepribadian sangat peduli terhadap peningkatan kualitas Pendidikan di Alkhairaat, baik dari segi materi pengajaran, sarana dan prasarana Pendidikan hingga kesejahteraan para tenaga pengajar di lingkungan Alkhairaat. Beliau setiap kali mendengar laporan terkait adanya guru yang diperhadapkan kesulitan ekonomi tanpa menunggu lama beliau langsung memberi bantuan sukarela secara pribadi. Selain itu beliau sering mngajak para murid dan guru di lingkungan Alkhairaat untuk berdialog mengenai problematika Pendidikan yang dihadapi. Sambil diselingi nasehat-nasehat beliau yang amat berharga.
- Dalam salahsatu kesibukan dakwah beliau di Kota Palu, menurut penuturan dari murid senior beliau Almarhum KH. Rustam Arsyad bahwa Sayyid Idrus bin Salim, Guru Tua mengalokasikan dua waktu dan tempat untuk dakwahnya. Yang pertama berlokasi di Masjid An Nur dari pukul 16.30 s/d 19.30. Pesertanya adalah para murid beliau dan Masyarakat luas. Termasuk didalamnya turut hadir secara khusus Raja Palu dan para pemuka Masyarakat saat itu. Lokasi kedua adalah Rumah beliau sendiri dari pukul 20.00 s/d 22.30 yang dihadiri secara terbuka oleh masyarakat luas hingga jamaahnya membludak sampai jalan raya dibawah penerangan lampu petromax yang digantung di pohon saat itu. Sehingg pola dakwah ini menuai hasil yang signifikan terlihat dari kegiatan misionaris penginjilan di Pasar Palu yang telah berlangsung lama mereka hentikan karena tidak ada lagi yang mendengarkannya. Demikian pula dari kegiatan Masyarakat lokal yang sarat nuansa animismenya lambat laun atas kesadaran dan pemahaman beragama yang semakin baik Masyarakat pun meninggalkannya.
- Pulau Banggai ( sekarang menjadi ibukota dari Kab. Banggai laut ) merupakan salahsatu tempat yang Istimewa di hati Sayyid Idrus Guru Tua. Sehingga beliau sering berkunjung kesana. Hal ini dikarenakan Masyarakat dan Rajanya sangat baik. Suasana yang harmonis inilah membuat beliau mendapatkan kemudahan berdakwah hingga mendirikan madrasah Alkhairaat disana dan menempatkan salahsatu murid terbaik beliau memimpin madrasah tersebut. Adalah ustadz Sa’ad nama murid beliau yang ditugaskan di Banggai. Perlu diketahui bahwa ustadz Sa’ad memiliki 2 saudara lagi yang Bernama As’ad dan Sa’id. Ketiga nama ini adalah nama pemberian Gurutua. Pula ketiga saudara kandung ini merupakan putra-putra asli Kaili dari keluarga miskin di Desa Sambo-Sigi. Ketiganya mendapatkan Amanah dan tugas mengajar dari Guru Tua, masing-masing ustad As’ad ditempatkan di Kota Manado, ustadz Sa’id di Kota Girian juga Sulawesi Utara. Sementara ustadz Sa’ad di Pulau Banggai Sulawesi Tengah. Mereka bertiga adalah salahsatu gambaran hasil tempaan tangan berkah Guru Tua. Hidup dan dan dibesarkan di rumah beliau hingga menjadi sosok-sosok handal dikemudian hari. Mereka bertiga dengan tekun melaksanakan tugas mulia ditempat masing-masing dengan penuh dedikasi dan keikhlasan sehingga Masyarakat mencintai mereka dan tidak mengizinkan Kembali ke kampung halamannya di Tanah Kaili. Ditambah lagi Guru Tua telah merestui pengabdian mereka tersebut ditempatnya masing-masing hingga akhir hayat mereka. Sebuah Gambaran pengaruh karakter kedermawanan yang luarbiasa dari sang Guru.
- Salah satu bentuk kedermawanan dari Guru Tua yaitu dengan memberikan contoh konkrit dengan mengangkat seorang pendeta muda yang bernama PK. Entoh (Alm), sebagai guru mata pelajaran ilmu aljabar (ilmu hitung dagang) di Pesantren Alkhairaat, selama periode tahun 1957-1962. PK. Entoh menceritakan kenangannya selama bersama Guru Tua:
Setiap hari selesai saya mengajar siswa siswi Pesantren AlKhairaat,ketika pulang, Guru Tua telah menunggui para guru di depan sekolah Alkhairaat, terkadang duduk atau berdiri, sambil mengulurkan tangannya berjabat tangan atau menyalami para guru, termasuk dirinya. Khusus kepada saya, Guru Tua memegang bahu saya dan menepuk- nepuk pundak saya, sambil berkata Oh….terimakasih dek….terimakasih dek, sudah bersedia memberikan ilmunya kepada anak-anak kita. Dia bilang “anak-anak kita”, padahal mereka semuanya muslim, sedangkan saya seorang kristen, mengapa Guru Tua mengatakan anak-anak kita? Jadi berarti, siswa siswi Alkhairaat itu, juga adalah anak-anak didik saya sekalipun saya seorang kristen. Disisi lain, kalau Guru Tua pulang dari inspeksi AlKhairaat ke daerah-daerah, ketika kembali tiba di Palu, Guru Tua masuk sekolah dan dia cari dimana saya mengajar. Begitu berjumpa dia bertanya sambil menepuk-nepuk pundak saya…bagaimana keadaan anak-anak kita pak guru, tolong bimbing mereka menjadi orang yang baik agar berguna bagi bangsa dan negara. Kata PK. Entoh, mendengar kepercayaan dan tanggung jawab seperti itu, saya menjwabnya iya guru, sambil menangis terharu akan kehormatannya kepada saya yang kristen.
- Sayyid Idrus bin salim adalah seseorang yang memiliki sifat Humanis yang tinggi yang menjadi pijakan karakter kedermawanan dan sosial beliau. Kedermawanan dan sifat sosial tersebut yang paling penting dapat dikenang dan sekaligus dijadikan teladan adalah bahwa Guru Tua dalam membangun Alkhairaat berlandaskan tekad yang kokoh dan niat tulus Ikhlas tanpa pamrih demi kepentingan agama dan Umat Islam. Beliau rela menghibahkan bahkan mewakafkan seluruh hasil usaha dagang yang dihasilkannya demi kemajuan alkhairaat. Terkait hal ini Sayyidah Syarifah Sa’diyah Binti Idrus Aljufrie (almrh) mengungkapkan bahwa totalitas sang Ayah tercinta merupakan implementasi kuat dari pernyataan tegasnya :
” روحي و مالي للخيرات ”
“ Jiwa dan hartaku semuanya untuk Alkhairaat”
Subhanallah… dahsyatnya!!! betapa agungnya
Inilah yang telah,dan sedang serta terus menjadi pegangan dan cemeti bagi seluruh abnaa dimanapun berada. Alhamdulillah bini’matihi tatimmu Ashshalihaat…
Namun cemeti ini bisa menjadi tidak berguna bila tidak mendapatkan perhatian serius berupa evaluasi, koreksi dan intropeksi diri secara kolektif dan gradual dari pemangku kepentingan mulai dari jajaran tertinggi struktur sampai yang terkecil kita.
Kedermawanan Adalah Pilar dan Jembatan Menuju Kekokohan Ekonomi yang Mandiri dan Berkeadilan Sosial
Untuk tujuan mulia membangun hidup yang sejahtera baik material maupun spiritual Islam agama kita nan hanif senantiasa memotivasi agar setiap individu berusaha secara mandiri dan mengambil tanggung jawab baik secara kesadaran individual maupun kolektif untuk mewujudkan kesejahteraan tersebut.
Dalam konteks diatas, sejak awal pendirian madrasah Alkhairaat, Guru Tua Sayyid Idrus bin Salim telah merintis usaha niaga atau dagang dan penggalangan wakaf untuk menumbuhkan kemandirian dan jiwa interpreneurship (kewirausahaan) yang dapat ditularkan kepada setiap santri Alkhairaat. Dan rintisan tersebut berpijak kokoh pada karakter dan sifat kedermawanan dan jiwa sosial serta Humanis beliau.
Adapun diantara buah dari sikap dan karakter pendiri Alkhairaat Guru Tua yang dikemudian hari terus berkembang dalam bentuk usaha-usaha di bidang ekonomi meliputi:
- Swalayan Alkhairaat (SAL)
Swalayan Alkhairaat (selanjutnya disebut SAL), merupakan salah satu badan usaha Alkhairaat yang diharapkan dapat menjadi pilar ekonomi Alkhairaat, terutama untuk menunjang gaji guru pada semua level di lingkungan madrasah Alkhairaat. Keberadaan SAL, semula diinspirasi oleh tradisi niaga Guru Tua setiap kali bepergian dalam kegiatan safari dakwah atau mengunjungi madrasah-madrasah Alkhairaat di setiap daerah, hingga ke pelosok-pelosok pedalaman yang terpencil.
Setelah Pesantren atau Asrama bagi para murid berdiri, barang-barang dagangan milik Guru Tua tidak lagi semata-mata dibawa serta dalam perjalanan safari dakwah beliau namun berkembang menjadi sebuah toko kecil milik pribadinya, akan tetapi seluruh manfaatnya atau keuntungan dari penjualannya selain untuk keluarganya juga diperuntukkan sebesar-besarnya untuk menanggulangi biaya akomodasi murid yang tinggal secara gratis pada dua Asrama, yaitu Asrama yang bertempat Masjid Alkhairaat, dan Asrama di rumah Intje Ami Daeng Sute (Ite).
Pada masa selanjutnya, toko kecil milik Guru Tua tersebut berkembang menjadi toko buku Alkhairaat yang dalam perjalanannya menginspirasi PB Alkhairaat untuk membangun SAL seperti sekarang yang bermarkas di Jl.SIS Aljufri No.44
Dalam perjalanannya pun sejarah membuktikan dengan sendirinya, bahwa sepeninggal GuruTua tidak ada harta yang ditinggalkan, kecuali sebuah rumah yang bentuk bangunannya menyatu dengan madrasah Alkhairaat. Hal ini dikandung makna yang dalam bahwa, yang mendasari seluruh aktivitas Guru Tua adalah keikhlasan dan keteladanan. Kedua sikap mentalitas ini, biasanya menjadi ciri khas bagi seorang ulama. Tapi sangat disayangkan, diera sekarang sikap mentalitas tersebut, telah mengalami “kemerosotan” di kalangan abna’ al-khairat. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi abnaa.
Dapat disimpulkan, sesungguhnya Guru Tua di dalam usaha mengembangkan madrasah Alkhairaat dan dakwah Islam, tidak hanya berperan sebagai seorang guru, ulama, dan tokoh pejuang, melainkan juga sebagai seorang pedagang. Dan sudah barang tentu hal ini merupakan ejawantahan tradisi yang diwariskan dari kebiasaan Nabi Muhammad Saw. yaitu “berdakwah dan berdagang” pada dua fase dakwah baik Ketika di Makkah maupun sesudah hijrah ke Madinah.
- Pemberdayaan Wakaf dan Perhatian ekstra terhadap Fakir Miskin serta anak yatim piatu
Ada satu fakta yang harus menjadi objek cermatan kita bersama bahwa kawasan Timur Indonesia dalam kurun waktu yang panjang sejak kemerdekaan, selalu identik sebagai kawasan yang mengalami kelambanan pembangunan. Meski demikian pemerintah RI kita silih berganti meletakkan skala prioritas perhatian Pembangunan terhadap Kawasan tersebut. Semoga semakin hari semakin mantap kita ucapkan sayonara terhadap ungkapan bahwa Jawa lebih maju dibanding luar Jawa, terutama Indonesia Timur.
Bagi Kawasan Indonesia bagian Timur, Alkhairaat yang digerakkan sang pendiri sayyid Idrus bin salim sejak sebelum masa kemerdekaan dan paska kemerdekaan perjalanannya dapat dijadikan contoh monumental dalam sejarah penggalangan kedermawanan sosial. Ketika itu lakon dakwahnya telah merangsek ke lebih dari tujuh provinsi di Indonesia Timur. Gerakan dakwahnya tidak sebatas mengandalkan tabligh, berupa ceramah dan khutbah tetapi juga aktif menggalang dana untuk membangun sarana pendidikan. Maka tidak berlebihan jika Guru Tua disematkan sebagai maestro fundraiser di Indonesia Timur. Sebutlah pola-pola pemberdayaan yang beliau terapkan tidak semata fokus pada aspek moral, akhlak dan pendidikan tetapi juga pada aspek ekonomi pesantren seperti mendirikan rumah wakaf (rumah Guru) untuk melengkapi sarana dan prasarana madrasah Alkhairaat.
Guru Tua mendirikan dua buah rumah wakaf sejak tahun 1963, yaitu di kompleks Alkhairaat Pusat dan di Desa Kalukubula Kabupaten Sigi. Setelah beliau wafat, rumah-rumah wakaf dibangun di sejumlah tempat khususnya di lokasi Pesantren Alkhairaat, terutama untuk mengatasi kesulitan tempat tinggal guru-guru Alkhairaat yang telah berkeluarga tapi belum memiliki rumah sendiri.
Selain rumah wakaf, Guru Tua juga membangun Masjid dan madrasah di Desa Kotarindau dan Desa Walatana Kabupaten Sigi pada tahun 1960, yang pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat setempat dan sampai sekarang fasilitas tersebut masih digunakan.
Beberapa karya tangan berkah beliau di atas membuktikan bahwa Guru Tua benar-benar sebagai penggalang wakaf yang berhasil di wilayah yang relatif tertinggal jauh dibanding daerah lain di Jawa. Belum lagi persebaran pengurus dan madrasah Alkhairaat di dua belas Provinsi, sekaligus memiliki ratusan hektar bidang tanah wakaf yang diberikan oleh masyarakat setempat sebagai investasi bagi madrasah Alkhairaat. Namun, harus diakui manajemen pengelolaan dan usaha sertifikasi tanah-tanah wakaf Alkhairaat masih memerlukan usaha dan kerja keras dari pengurus Alkhairaat pada semua level kepengurusannya.
Selain mengelola dan memberdayakan wakaf, Guru Tua juga memiliki perhatian dan kepedulian yang cukup tinggi terhadap anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. Pada tahun 1963, atas kesepakatan Guru Tua bersama beberapa tokoh masyarakat di Ternate, seperti keluarga Abbas, Hanafi, keluarga Andili, Al-Haddar, H. Said Al-Ammary, Al-Baar, Sugira, Boppeng, Daeng Barang Al-Bugis, dan M.S. Jahir. Mereka ini sepakat menugaskan H. Said Al-Ammary untuk membawa 41 orang anak-anak Ternate dengan kapal Tombong ke Manado dengan tujuan Palu untuk sekolah di madrasah Alkhairaat dan setengah dari 41 orang itu berasal dari dhu’afa, keluarga kurang mampu.
Menurut Habib Salim Al-Baar seorang tokoh Alkhairaat di Maluku Utara, bahwa Guru Tua memiliki sifat kasih sayang yang luar biasa kepada murid-muridnya, terutama yang kurang mampu atau dhuafa. Dalam mendidik dan memelihara mereka, Guru Tua tidak meminta belas kasihan kepada penguasa, justru membuka toko kecil, barang-barang dibeli dari Jawa kemudian dijual pada saat Guru Tua berkunjung ke wilayah Alkhairaat. Semua hasil jualan itu digunakan untuk membiayai makan dan minum anak-anak asrama atau santri Alkhairaat yang tinggal secara gratis.
Untuk pembiayaan hidup rumah tangga Guru Tua dan gaji guru diusahakannya dengan jalan berdagang. Guru Tua tetap aktif berdagang dan kegiatan belajar mengajar juga tetap berjalan dengan baik tanpa ada kendala apapun. Jadi, pendidikan dan pemeliharaan anak kurang mampu telah dilakukan oleh Guru Tua secara gratis.
Cetak biru perjuangan Guru Tua dapat dipandang sebagai gerakan pemberdayaan riil yang mencitakan etos perubahan yang luar biasa. Sepanjang tahun 1930-1969, Guru Tua berjuang dalam empat zaman, yaitu imperialisme Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, dan zaman kemerdekaan, ketika Indonesia baru mengkonsolidasikan diri sebagai bangsa.
Pada keempat zaman yang penuh dengan masa sulit itu, etos pemberdayaan dan keswadayaannya tak perlu diragukan lagi. Betapa tidak, Guru Tua tidak mengajarkan sikap menengadahkan tangan “mengemis” bantuan pemerintah. Justru sebaliknya, Alkhairaat banyak menolong merekatkan bangsa dan memberdayakan kaum papa negeri ini. Guru Tua mencetak kader penerusnya melalui madrasah Alkhairaat, menghasilkan beragam kader yang mumpuni di bidang-bidang kehidupan.
Dengan penuh keyakinan kita deklarasikan, bahwa kalau dimasa sulit saja, seorang Guru Tua dapat menggerakkan dan meyakinkan orang untuk mewakafkan tanah, harta benda, waktu dan tenaganya untuk memberdayakan diri dan lingkungannya, tentu di zaman kita suasana “merdeka sepenuhnya” seperti sekarang dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sesama akan lebih banyak lagi yang bisa dihasilkan bagi rakyat Indonesia khususnya di Kawasan Timur Indonesia.
Guru tua dan Qadhiya Palestina
Allah Ta’ala Maha berkehendak pada momentum haul ke 57 Guru Tua kali ini situasi dan kondisi global dunia utamanya qadhiya tirani yahudi israel Zionist terhadap bangsa Palestina masih terus membara. Penjajahan di abad modern ini masih terus berlangsung meski negara-negara mayoritas muslim terus mengecam Tindakan-tindakan brutal Zionis Yahudi.
Guru Tua semasa hidupnya termasuk sosok yang penuh kepedulian terhadap qadhiya penjajahan Israel terhadap Palestina. Kita bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada beliau atas arahan penyikapan yang tepat terhadap masalah ini. Terlihat pandangan beliau dalam gubahan syairnya sebagai berikut :
Lontaran pemikiran politik pada kutipan syair diatas menunjukan betapa Guru Tua sangat memahami secara baik geopolitik baik skala nasional maupun internasional di masa itu. Menurutnya, musuh bangsa Arab dan Islam adalah Amerika bersama sekutu-sekutunya, seperti terbaca pada bagian awal syair di atas. Amerikalah yang berada dibalik peran antara Israel dan Palestina, yang menggerakan Amerika yang sesungguhnya adalah bangsa Yahudi.
Sejak dahulu, bangsa Yahudi adalah bangsa yang tidak berperikemanusiaan, karena tidak saja menganeksasi wilayah Palestina, melainkan juga selalu melanggar perjanjian dengan Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada mereka. Dengan kata lain, kritik Guru tua pada syair di atas menunjukkan bahwa sebenarnya “Bapak Kolonialisme dan Imperialisme Internasional” yang menjadi embrio pelanggaran hak-hak asasi manusia secara besar-besaran adalah bangsa Yahudi.
Namun Guru Tua optimis, kelak bangsa Yahudi akan ditaklukkan oleh kaum Muslimin sepanjang mereka mampu mempersatukan diri. Optimisme ini berakar pada akar Tauhid Guru Tua, seperti terbaca pada tks syair bahwa, “Kekuasaan dan kekuatan Allah tidak tersembunyi pada seorangpun, barangsiapa yang memerangi Arab dan Islam akan binasa.”
Pada bagian akhir dari manaqib ini kami sampaikan bahwa kini, Alkhairaat telah memiliki ribuan sekolah, puluhan pesantren, hingga universitas yang melahirkan para sarjana di Timur Indonesia. Di belakang angka-angka itu, ada jejak-jejak seorang Guru tua yang berjalan dari desa ke desa, mengajar dan merangkul. Beliau tidak pernah memaksa orang menjadi muridnya, tapi mereka datang—karena dalam dirinya ada cahaya.
Indonesia, lebih khusus kawasan timurnya yang dipilih menjadi ladangnya. Beliau tanamkan ilmu dengan benih kesabaran. Ia bangun sistem pendidikan dengan kepemimpinan yang bersandar pada cinta, bukan ambisi. Ia sabar dalam kemiskinan. Ia gigih dalam keterasingan. Ia teguh, bahkan ketika pemerintah pernah satu waktu menolaknya sebagai pahlawan nasional hanya karena ia belum menjadi warga negara Indonesia.
Namun sejarah bukan selalu semata soal pengakuan negara. Ia juga merupakan soal gema dalam hati rakyat. Dan di hati mereka yang merasakan manfaat dari Alkhairaat, dari sekolah-sekolah yang ia dirikan, dari doa-doa yang ia ajarkan, Guru Tua sudah lebih dari seorang pahlawan.
Di akhir hayatnya, beliau bukan hanya menyisakan lembaga pendidikan, tapi juga cara hidup: untuk mencintai dengan sabar, untuk berjuang dalam diam, dan untuk percaya bahwa satu langkah kecil bisa mengubah nasib sebuah generasi.
Ketika seseorang menghina nama Guru Tua, yang dirusak bukan hanya reputasi, tapi kepercayaan panjang yang dirawat dari generasi ke generasi. Yang terusik bukan hanya keluarganya, bukan hanya murid-muridnya. Yang terusik adalah memori kolektif kita tentang kemuliaan. Yang retak adalah kesantunan publik yang selama ini dirajut dengan sabar.
Maka, upaya peradilan terhadap penghina barangkali bukan soal balas dendam. Ia mungkin sebentuk ikhtiar menyusun ulang keseimbangan yang telah terganggu. Sebentuk pengingat bahwa kita masih punya cara sendiri dalam menyembuhkan luka—dengan adab, bukan kebencian apalagi dendam.
Sementara itu, kita semua—yang membaca, menonton, mengomentari—perlu kembali bertanya: apa yang kita warisi dari sang Guru Tua? Jika bukan ilmu, setidaknya adab.
Akhirnya perkenankan saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kesempatan yang berharga ini, mohon maaf atas adanya banyak hal yang kurang berkenan.
Wallahul Musta’an. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Palu, 13 Syawal 1446 H
12 April 2025 M
Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ( SIS )
Sang Pemimpin Pencerah, Teladan Kedermawanan,
Sosok Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Dalam Sebuah Catatan Perenungan
Oleh
Zainuddin Tambuala
Naskah Pidato manaqib Guru Tua R.A
Pada haul ke 57 di Palu