hacklink hack forum hacklink film izle hacklink mostbetสล็อตสล็อตscopri di piùromabetcasino siteleriroyalbet girişmostbetkavbetKingroyaljojobetjojobetjojobetjojobetjojobetjojobetzlibraryjojobetMeritking GirişHiltonbetHiltonbetgokken zonder cruksPadişahbetizmir escortdeneme bonusu veren sitelerdeneme bonusu veren sitelervaycasinoholiganbetTuzla Escortholiganbetdeneme bonusu veren sitelerdeneme bonusu veren sitelerdeneme bonusu veren sitelerkingroyalpornholiganbet girişholiganbetjojobetjojobetdeneme bonusu veren yeni sitelercasino siteleribahis siteleriTürk ifşaholiganbet

Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

Manakib Haul Guru Tua Ke 54

Manakib Al Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua)

 

Ditulis Oleh :

 

Abdullah Reza bin Hasan bin Saggaf bin Syekh bin Salim Aljufri, Lc., M.A.

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menyempurnakan segala kebaikan dan dengan mengingat dan menyebut para kekasih dan auliya’nya Allah menurunkan Rahmatnya.

 

Sholawat serta salam tercurahkan kepada pemimpin dari semua pemimpin dan sebaik-baik manusia sayyiduna wa maulana wahabibina Muhammad saw beserta segenap keluarga dan para sahabatnya yang mereka semua bagaikan bintang-bintang yang menerangi gelapnya malam.

 

Para Habaib, Para ulama, para tokoh-tokoh hadirin sekalian yang dirahmati oleh Allah…

 

Allah berfirman :

قال الله تعالى :

أقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.

  1. Yusuf Ayat 111.

Telah banyak sekali bukti kebenarannya bahwasanya akan mendapatkan sir, madad dan barokah di dunia maupun di akherat kelak bagi orang-orang yang berusaha mencatat, mengumpulkan, dan menyiarkan riwayat hidup, budi pekerti, akhlak dan ilmu yang mendekatkan manusia kepada Allah SWT sehingga bisa menjadi tauladan bagi masyarakat umum.

 

Maka untuk tujuan itulah hati kami tergerak untuk mengungkapkan sebagian kecil dari riwayat hidup salah seorang termasyhur, termulia dan terpandang di antara para ulama dan fuqoha Sayyidina wa maulana wa habibina Al Alim Al Allamah Al Bahr Al Fahhamah Al Faqih Al Ushuli Al Qodhi Idrus ibnul Al Allaamah Salim bin Alwi bin Saggaf Aljufri.

Dengan harapan semoga kita memperoleh sepercik barokah dan rahmah yang Allah limpahkan kepada beliau dan semoga kita tercatat sebagai abnaul Khairaat yang taat dan setia kepada beliau.

Amin Ya rabbal Alamin…

Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah…

Habib Idrus bin Salim Aljufri, yang bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan abnaul khairaat di seluruh negeri mengenalnya dengan sebutan Guru Tua.

إمام تاريخ في كل فن * رحب الباع منطلق اللسان

Seorang imam yang telah menguasai seluruh bidang ilmu, orang yang santun dengan tamu dan memiliki lisan yang lancar.

 

هو البحر من أي اللواحي أنتجه * فاجه المعروف والجود ساجله

 

Itulah pujian sahabat dan muridnya kepada Guru Tua.

Alhabib Idrus bin Salim Aljufri/Guru Tua lahir pada tanggal 14 Sya’ban 1309 H atau bertepatan pada tanggal 15 Maret 1891 M di sebuah kota yang bernama Taris yang terkenal dengan qabilah Aljufri.

Ayahanda Habib Idrus bin Salim Aljufri bernama Alallamah Alhabib Salim bin Alwi Aljufri, sedangkan ibundanya bernama Syarifah Nur, mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Aru Matoa atau Raja yang dituakan di Wajo, Sengkang, Sulawesi Selatan.

 

Pendidikan dan Guru-Guru Habib Idrus bin Salim Aljufri

 

Setelah Habib Idrus muda belajar dengan ayahandanya, dengan kegigihannya menuntut ilmu, Habib Idrus pun berpindah ke kota Dzibah untuk belajar, berguru kepada orang yang soleh yang tersohor akan ilmunya yaitu Alhabib Abdullah bin Hasan bin Sholeh Albahar. Setelah berguru kepada Habib Abdullah bin Hasan Albahar, Habib Idrus melanjutkan lagi belajarnya ke kota Sewun, kali ini Habib Idrus belajar kepada Alhabib Ali bin Muhammad Alhabsy, sohibul maulid Simtudduror atau pengarang Maulid Simtudduror. Berlanjut lagi, Habib Idrus bin Salim Aljufri berpindah ke kota Tarim untuk belajar di Rubat Tarim yang saat itu berada di bawah asuhan Alhabib Ali bin Abdurrahman Almasyhur, dan di sana juga beliau bertemu dengan sahabat yang begitu dekat dengannya yaitu Alhabib Abdul Qadir Bilfaqih, pendiri Darul Hadits Malang, dan Alhabib Hamid bin Salim Assiry.

 

Selain yang telah disebutkan di atas, Alhabib Idrus juga belajar kepada :

 

  1. Alhabib Ahmad bin Hasan Alathos
  2. Alhabib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry
  3. Alhabib Muhammad bin Salim Assiry
  4. Alhabib Syeh bin Idrus Alydrus
  5. Alhabib Abdul Bari Alydrus
  6. Alhabib Ahmad bin Hamid, imam masjid Baalawy
  7. Alhabib Ali bin Abdurrahman Almasyhur
  8. Alhabib Alwi bin Abdurrahman Almasyhur
  9. Alhabib Abdurrahman bin Alwi Assegaf

 

Dan masih banyak lagi guru-guru Habib Idrus bin Salim Aljufri.

 

**Pasca Wafatnya Ayahanda Guru Tua dan Dakwah Habib Idrus bin Salim Aljufri di Hadramaut**

 

Setelah 8 tahun dari kepulangannya, Habib Idrus melaksanakan ibadah haji bersama ayahnya. Pada tahun 1335 H/1916 M, Alhabib Salim bin Alwi bin Saggaf Aljufri, ayah Guru Tua, berpulang ke rahmatullah untuk selama-lamanya. Informasi wafatnya Habib Salim sampai kepada Raja (Sulthan) Mansur.

 

Pasca sepeninggalan ayahandanya, karena kapasitas keilmuannya dan keluasan pengetahuannya, maka pada bulan Syawal 1335 H/1916 M, Raja (Sulthan) Manshur mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang menetapkan jabatan mufti dan qodhi kepada Alhabib Idrus bin Salim Aljufri, menggantikan posisi ayahnya.

 

Usia Guru Tua saat itu sekitar 19 tahun. Pada saat yang bersamaan pula, Habib Idrus mengajar di Masjid Ibn Sholah seperti yang dikerjakan ayahandanya. Di saat itu, Habib Idrus belum mendirikan madrasah. Beberapa waktu berselang, Habib Idrus membangun madrasah/sekolah formal di Kota Taris, bersebelahan dengan Masjid Ibn Sholah. Karya monumental Guru Tua tersebut kemudian beliau beri nama dengan nama Madrasah Alkhairaat, yang hari ini menjadi aset besar agama, bangsa, dan negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara yang dilandasi akhlakul karimah/budi pekerti yang luhur.

 

Untuk kita ketahui, Madrasah Alkhairaat yang pertama kali dibangun oleh Guru Tua itu di Kota Taris sejak puluhan tahun yang lalu, hingga kini madrasah tersebut masih ada dan makmur dengan penuntut-penuntut ilmu dari belahan bumi Nusantara.

 

**Perjalanan Dakwah Habib Idrus di Indonesia**

 

Pada tahun 1343 H atau 1922 M, Habib Idrus meninggalkan Yaman dan menuju Indonesia. Kedatangannya di Pulau Jawa ini adalah yang kedua kalinya. Kedatangan yang pertama pada saat Guru Tua masih anak-anak ketika berkunjung ke Indonesia bersama ayahnya dalam rangka mengunjungi sanak saudara dan keluarga di kampung halaman ibundanya.

 

Kedatangan Habib Idrus yang kedua kalinya diawali dengan menetap di Pekalongan. Di Pulau Jawa, Guru Tua banyak bertemu dan berkenalan dengan berbagai ulama. Setelah dari Pekalongan, Alhabib Idrus pindah kembali ke Jombang, dan di sanalah Guru Tua bertemu dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

 

Habib Idrus bin Salim Aljufri tinggal di Jombang selama kurang lebih 2 tahun. Selanjutnya, Habib Idrus bin Salim Aljufri pindah ke Kota Solo atas permintaan para Alawiyyin di sana untuk menjadi kepala sekolah dan guru di Madrasah Rabithah Alawiyah, yang kini sekolah tersebut telah berubah nama menjadi Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro. Dua tahun lamanya Guru Tua memimpin madrasah tersebut dan mencapai kemajuan yang pesat. Habib Idrus kemudian mendapatkan saran dari para habaib dan ulama di Jawa untuk mengembangkan pendidikan ke Pulau Sulawesi dan bagian timur Indonesia. Berangkat dari saran dan isyarat itu, Guru Tua menuju bagian timur Indonesia. Dan tak ada satu tempat yang Habib Idrus singgahi kecuali kota tersebut dihiasi dengan taman surga, yaitu majelis ilmu.

 

Guru Tua kemudian bersiap berlayar menuju bagian timur Indonesia. Maluku adalah persinggahan pertama Guru Tua sebelum daerah yang dituju. Habib Idrus bin Salim Aljufri singgah di Sulawesi Utara untuk mengunjungi dua kakaknya yang sudah lebih dahulu tinggal di Kota Tondano, yaitu Sayyid Syekh bin Salim Aljufri dan Sayyid Alwi bin Salim Aljufri. Beberapa waktu Guru Tua melepas rindu dengan saudara-saudaranya, kemudian Habib Idrus melanjutkan perjalanan dakwahnya menuju Kota Manado, Wani, Donggala, dan Palu.

 

**Pembukaan Madrasah Alkhairaat**

 

Kehadiran Habib Idrus di Wani merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik. Mereka pun bersama-sama mendirikan sebuah tempat yang digunakan untuk proses belajar-mengajar.

 

Madrasah pendidikan ini diberi nama Al-Hidayah, yang mana memiliki kesamaan dengan madrasah yang telah dibangun oleh dua bersaudara, Habib Ali Alhabsyi dan Habib Abdullah Alhabsyi di Tojo Una-Una, Ampana.

 

Belanda mulanya memberikan izin pendirian madrasah Al-Hidayah, namun ketika pecah pemberontakan Salumpaga di Toli-Toli, pihak Belanda kemudian menutup madrasah tersebut karena dianggap dapat mempengaruhi pemikiran rakyat. Bahkan beberapa murid Habib Idrus dituduh terlibat dalam pemberontakan tersebut.

 

Pada saat itu, rombongan Sayyid Abdurrahman bin Syekh Aljufri beserta beberapa tokoh masyarakat lainnya menjumpai Guru Tua. Mereka memohon dan mendesak agar pembukaan madrasah dialihkan ke Kota Palu. Dan Alhamdulillah, berkat bujukan Sayyid Abdurrahman bin Syekh Aljufri, maka akhirnya terwujud, pembukaan Madrasah Alkhairaat dipindahkan ke Kota Palu.

 

Selain itu, menurut Raja Palu, proses pendirian madrasah ke Palu telah mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda. Setelah mendapat persetujuan dari semua pihak, maka dipindahkanlah semua bangku-bangku kebutuhan madrasah dan muridnya ke Kota Palu.

 

Ruangan belajar yang pertama kali digunakan Guru Tua adalah ruangan toko H. Quraisy di Kampung Ujuna, Palu. Kemudian pindah di rumah H. Daeng Marotja.

 

Pada tanggal 14 Muharram 1349 H atau 11 Juni 1930, dibukalah dengan resmi Madrasah Alkhairaat dengan pembukaan yang begitu meriah. Upacara peresmian dihadiri oleh pemerintah Belanda, Raja Palu Janggola, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar Kota Palu, khususnya lagi dihadiri oleh Alhabib Ahmad bin Ali Almuhdor yang terkenal dengan kesolehannya. Lalu beliau kemudian memimpin doa dengan doa yang begitu agung, yang mendoakan agar pemimpin Madrasah Alkhairaat selalu senantiasa dalam kemenangan dan kesuksesan.

 

Sejarah mencatat antusias masyarakat Lembah Palu akan pentingnya pendidikan keagamaan. Alkhairaat kemudian menjadi cahaya yang terang benderang, menyinari para penduduk Kota Palu dan sekitarnya, mengikis kepercayaan tradisional dinamisme (mistik) dan animisme. Pembangunan Madrasah pertama Alkhairaat tak lepas atas bantuan swadaya masyarakat, di antaranya Sayyid Abdurrahman bin Husain Aljufri, Syekh Nasir bin Sholeh Alamrie. Hari demi hari pun berlalu, nama Alkhairaat begitu cepat tersebar luas. Sejak 6 bulan berdirinya Madrasah Alkhairaat, saat itu tak lagi bisa menampung seluruh pelajar, dan akhirnya Alhabib Idrus bin Salim Aljufri membangun kelas yang mampu menampung 200 pelajar dari kantongnya sendiri, sebagaimana dituangkan dalam syairnya:

 

إلى العلم أدعو والتقى كل مسلم # بخالي ومالي ولساني وبياني

 

Aku ajak setiap muslim kepada ilmu dan taqwa # dengan kesahajaanku, hartaku, lisanku, dan pena.

 

Kemudian, di antara yang menemani Guru Tua dalam berdakwah yaitu istri beliau, Syarifah Aminah binti Tholib Aljufri, yang selalu setia menemani dakwah Habib Idrus, baik dalam keadaan bepergian maupun dalam keadaan muqim. Bahkan orang menamakan dan menjuluki beliau “Tas Tengteng Guru Tua” karena kesetiaannya dalam menemani Habib Idrus bin Salim Aljufri.

 

Beliau adalah sang pejuang yang berjuang bersama Guru Tua dalam membantu dakwahnya. Beliau pulalah yang meminta kepada Ince Ami atau Ite untuk menerima lamaran pernikahan dari Guru Tua, karena sebelumnya Ite menolak lamaran itu sampai Syarifah Aminah meridhoi, karena takut melukai hati sang Syarifah.

 

Rahimahumullah Rahmatal Abrar…

 

**Aqidah, Mazhab, dan Thariqah Sang Pendiri Alkhairaat**

 

Aqidah Habib Idrus adalah seperti aqidah leluhur pendahulunya, yaitu mengikuti aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Al-Asy’ariyah, dan itu pula aqidah Alkhairaat dan Guru Tua.

 

Habib Idrus mengikuti aliran Asy’ariyah ini, sesuai yang dikatakan oleh Al Imam Ghazali dalam Ihya’-nya dan Al Imam Haddad isyaratkan dalam Diwan-nya:

 

و كان الأشعرية في اعتقادك إله # هو المنهاج الصافي عن الرجس والكفر

 

Jadilah engkau orang yang memiliki aqidah Al-Asy’ari, maka sesungguhnya ia jalan yang murni, tak ada di dalamnya kesesatan dan kekufuran.

 

Adapun mazhab Alkhairaat dan Guru Tua bermazhab Imam Syafi’i.

 

Beliau telah ingatkan dalam wasiatnya:

 

Sungguh amaliah norma hidupku adalah Mazhab Syafi’i. Bila aku akan meninggal, maka aku berwasiat agar sesudah nanti hendaklah kalian (Abnaul Khairaat) menjadikan mazhab Syafi’i sebagai panutan.

 

Adapun thariqah Guru Tua adalah Thariqah Al-Alawiyah. Thariqah ini adalah jalan yang lurus yang ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya, para tabi’in, dan para salafus sholeh.

 

Tentang thariqah ini telah dijelaskan oleh Abu Tholib Al-Makky dalam kitab Al-Qut dan Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, atau yang lebih terkenal dengan nama Thariqah Ba’alawy.

 

Manhaj ini sebuah metode yang telah diwariskan dan dipetik dari para leluhur Imam Ba’alawy, yang sanad ilmunya bersambung terus kepada Imam Ja’far Assodiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Zainal Abidin, dan Sayyidina Husain bin Abi Thalib. Alhamdulillah, Alkhairaat ini memiliki sanad keilmuan yang jelas dan tak perlu diragukan lagi, bersambung hingga kepada Baginda Rasulullah saw.

 

Murid-murid Alkhairaat, Abnaul Khairaat sejati pecinta Guru Tua, berjalan dengan khittah atau jalan yang telah diarahkan oleh sang Guru. Abnaul Alkhairaat senantiasa menerapkan tradisi keagamaan dan kebangsaan seperti tahilian, yasinan, debaan, barzanji, mencium tangan ustadz (guru), ziarah maqam para wali, manaqib, dan haul. Adapun tradisi ini merupakan ekspresi dari bentuk kepenganutan mereka terhadap aqidah Al-Asy’ari, thariqah Alawiyah, atau disebut oleh Guru Tua sebagai Thariqah Al-Sirat Al-Mustaqim.

 

Dalam hal lain, Guru Tua dan Abnaul Alkhairaat tidak membenarkan praktek-praktek keagamaan seperti khurafat, bid’ah, dan syirik. Alasannya, praktek keagamaan seperti itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang diyakini oleh Guru Tua dan Abnaul Alkhairaat.

 

**Hari Kesedihan Itupun Tiba bagi Abnaulkhairaat**

 

Hari Senin jam 02:40 dini hari, tanggal 12 Syawal 1389 H/22 Desember 1969, lima puluh lima tahun yang lalu, Guru yang bersahaja itu, ulama besar, pemimpin yang karismatik, kembali ke hadirat Ilahi Rabbi untuk selama-lamanya. Habib Idrus bin Salim Aljufri, Guru Tua, menghembuskan napas terakhirnya dengan mengucapkan La ilaha illallah. Dunia Islam pun bersedih kehilangan seorang ulama, waliyullah. Begitu pula kesedihan yang dirasakan masyarakat Kaili, Abnaul Khairaat di seluruh penjuru negeri. Deras air mata kesedihan ditinggalkan sang Guru.

 

Guru Tua pernah mengatakan: “Bahwa aku adalah Guru Kaili.”

 

Ulama yang dicintai, dihormati Abnaul Khairaat, dan umat Islam maupun non-muslim. Siapa yang sanggup menahan air mata kesedihan ditinggal sosok Guru Tua. Namun, Guru Tua meninggalkan karya monumentalnya untuk umat Islam, aset bangsa dan negara, karya itu diberinya nama ALKHAIRAAT. Sebelum wafatnya, Guru Tua telah katakan, Alkhairaat telah sampai pada mata airnya. Yang takkan putus sumbangsihnya, perannya sebagai pencerah umat melalui pendidikan sebagai metode dakwahnya hingga yaumil kiamah.

 

Menurut Sayyid Alwi bin Muhammad Aljufri dari Alm. Syarifah Alwiyah, bahwa Guru Tua pernah mengatakan ketika berada di kediaman Sayyid Abdurrahman bin Syekh di Ampana: “Aku akan lebih menjaga Alkhairaat setelah aku wafat.”

 

Dan ketika sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Habib Idrus bin Salim Aljufri telah mengetahui bahwa dirinya segera kembali menghadap Allah SWT, maka Guru Tua pun telah menyiapkan dengan rinci wasiatnya, di mana ia dimakamkan, dishalatkan, imam shalat jenazahnya, yang memandikan, yang menerima di liang lahat, hingga protokol acara pemakaman telah dengan rinci oleh Guru Tua dituliskan.

 

Selain itu pula, Guru Tua berpesan untuk ditahlilkan 3 hari, hari ke-7, hari ke-40, dan setiap tahunnya diadakan haul. Maka haul ini adalah bagian dari wasiat Guru Tua. Haul sendiri menjadi wadah halal bihalal dan temu kangen Abnaul Khairaat dan pecinta Habib Idrus bin Salim Aljufri dari seluruh Indonesia.

 

Sungguh, demi Allah, apa yang saat ini kita saksikan bersama adalah hasil yang telah Habib Idrus perjuangkan selama 40 tahun, dan hasil ini pulalah yang senantiasa menjadikan lisan kita tak pernah lupa untuk menyebut namanya, karena sebuah jasa seorang guru tak akan dapat kita tebus. Guru Tua pernah mengatakan:

 

قأو بذلت له الدنيا بما فيها # لم تكف حق السابق تكفيلا

 

Jikalau engkau telah berikan dunia beserta isinya, maka niscaya engkau tetap tidak dapat menebus jasa seorang guru dengan sempurna.

 

Dan dalam masa perjuangan dakwahnya, Habib Idrus telah berhasil membangun 420 madrasah yang telah tersebar di seluruh wilayah Indonesia bagian timur, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua. Semuanya adalah saksi yang benar nyata akan dakwah beliau yang tak kenal lelah.

 

بضع وسبعون عاماً عني الصراط # قد فتحتها بحمد الله بالغظ

تلك المدارس في البلدان شاهدة # بأن قولي وفعلي ليس بالهزل

 

70 tahun lebih telah berlalu, bahwa aku alhamdulillah telah melaksanakan dengan amalku.

 

Sekolah-sekolah yang berada di setiap negeri itu telah menjadi saksinya bahwa perkataan dan perbuatanku bukanlah canda gurau, bukanlah omong kosong.

 

Beliau juga meninggalkan foto beliau sebagai pelepas rindu bagi pecintanya:

 

هذا المثال لصورتي خلفته * عند الأحبة كي يروني دائما

هذا إذا عز اللقاء لفرقة * من لم يجد الماء بالتراب تيمما

 

Ini adalah contoh dari fotoku yang aku tinggalkan * kepada pecinta-pecintaku agar mereka selalu melihatku, selalu mengenang nasehat-nasehatku.

 

Apabila kehendak Ilahi telah berlaku untuk berpisah * maka siapa yang tidak menemukan air untuk bersuci, maka bertayammumlah dengan debu untuk wudhu dan mandi.

 

Itulah peribahasa yang beliau ingatkan kepada kita manakala dirinya telah meninggalkan dunia ini. Ada fotonya yang menjadi pengganti dirinya, bahwa pada hakikatnya…

 

Semoga Allah menghujani pusara beliau dengan Rahmat-Nya dan menempatkan beliau di tempat yang luhur dalam surga-Nya.

 

Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah, marilah kita berpegang teguh kepada khittah Alkhairaat, kepada khittah Habib Idrus, kepada khittah Guru Tua.

 

Kita camkan nasehat-nasehat beliau dan sungguh-sungguh berusaha mengamalkannya dalam hidup kita, sebab seperti yang dikatakan oleh Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi (pengarang Maulid Simthu Duror), Guru dari Habib Idrus bin Salim Aljufri: “Bahwa pertemuan seperti ini tidak ada manfaatnya apabila kita tidak mau berusaha memanfaatkannya untuk dijadikan pegangan dan suri tauladan yang harus kita ikuti.”

 

Yang terakhir, marilah kita menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangan, dan berdoa kepada Allah SWT seraya bertawassul kepada Rasulullah saw, juga kepada Alhabib Idrus bin Salim Aljufri, sebab kita sama-sama yakin bahwa Habib Idrus hadir di tengah-tengah kita, dan sebab beliau, doa kita akan dikabulkan oleh Allah.

 

Ya Allah, kami datang membawa harapan dan angan-angan dengan kebesaran kekasih dan insan pilihan-Mu, Sayyidina Muhammad saw, dan dengan kebesaran wali-Mu, Sayyidina Habib Idrus bin Salim Aljufri. Janganlah Engkau pulangkan kami dari tempat ini dengan tangan yang hampa. (2x)

 

Kami menyadari bahwa lisan kami berlumuran dosa, tangan kami terkotori oleh noda. Kami hanyalah orang-orang yang banyak lalai dan melanggar larangan-Mu, mengabaikan perintah-Mu. Kami tidak layak mendapatkan surga-Mu, merasa tidak pantas untuk mendapatkan pahala-Mu.

 

Ya Allah, kami rindu Rahmat dan ampunan-Mu. Karena itu, ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa kedua orang tua kami yang masih hidup maupun yang telah wafat. Ampunilah dosa istri dan anak-anak kami. Jadikanlah kami dan mereka semua, dan seluruh yang hadir di haul ini, menjadi orang-orang yang baik yang cinta kepada kebaikan.

 

Ya Allah, jadikanlah kami dan anak-anak kami cinta kepada ilmu. Jauhkanlah mereka dari minuman keras, jauhkanlah mereka dari narkoba, jauhkanlah mereka dari perzinaan dan segala perbuatan yang tidak terpuji. Hiasi mereka dengan akhlak yang baik.

 

Ya Rabb, perbaikilah keadaan kami, keadaan para wanita dan pemuda kami, kepada keadaan yang lebih baik. Hiasi para wanita kami dengan hijab dan rasa malu. Hiasi pemuda kami dengan adab dan ilmu.

 

Jadikanlah para pemimpin kami orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Mu. Jauhkanlah negeri kami dari bencana dan marabahaya, serta orang kafir yang memerangi kaum muslimin.

 

Ya Rabb, kabulkanlah hajat-hajat kami, dunia maupun akhirat. Sampaikanlah maksud kami, baik yang hadir di saat ini, maupun saudara-saudara kami yang berhalangan. Janganlah Engkau haramkan mereka dari kebaikan perkumpulan ini.

 

Ya Rabb, panjangkanlah umur kami, sehingga kami bisa menghadiri haul ini di tahun-tahun yang mendatang yang lebih baik dari sekarang.

 

Ya Allah, janganlah Engkau haramkan tangan kami mencium tangan Habib Idrus bin Salim Aljufri di yaumil kiyamah. (2x) Ya Allah, janganlah Engkau haramkan tangan kami mencium tangan Guru Tua di mimpi-mimpi kami. Ya Allah….

 

Ya Rabb, jaga dan berkahilah anak keturunan Alhabib Idrus bin Salim Aljufri. Teguhkanlah mereka, panjangkanlah umur mereka, kuatkanlah mereka dalam istiqamah hingga mengiringi langkah kami yang fana ini.

 

Kumpulkanlah kami di Barzakh hingga di Mahsyar bersama junjungan kami Muhammad saw, bersama Alhabib Idrus dalam barisan para wali dan ulama-Mu, hingga ke dalam surga-Mu, ya Allah, ya Rahman, ya Rahim..

 

Terimalah doa dan permohonan kami ini, karena Engkaulah satu-satunya tempat kami memohon dan berdoa, ya Allah.

 

# رب اغفر لنا ولوالدينا وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

**Referensi :**

  1. Buku Al Kawakib Ad Durri Fi Manakib wa Maasyir Aljufri.
  2. Buku SIS Aljufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat.
  3. Dan Cerita dari Para Tokoh Alkhairaat (dalam bentuk Tulisan dan Perkataan).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top