
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita diberi kesempatan untuk menghadiri dan mengikuti rangkaian acara Haul ke-58 Guru Tua dalam suasana penuh khidmat dan keberkahan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan utama dalam kehidupan, yang telah mewariskan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Jamaah Haul Rahimakumullah
Haul bukan sekadar peringatan atas wafatnya seorang ulama, tetapi merupakan momentum spiritual untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang telah ditanamkan. Dalam konteks ini, Guru Tua hadir sebagai sosok ulama, pendidik, sekaligus pejuang bangsa yang mengajarkan keseimbangan antara keimanan, ilmu pengetahuan, dan cinta tanah air.
Dengan mengangkat tema “Pendidik Moderat dan Nasionalis Sejati”, kita diajak untuk menelusuri kembali jejak langkah Guru Tua dalam membangun peradaban melalui pendidikan yang inklusif, toleran, dan berakar pada nilai-nilai keislaman yang luhur. Beliau tidak hanya mendidik dengan ilmu, tetapi juga dengan keteladanan— mengajarkan bagaimana menjadi muslim yang teguh dalam akidah, namun tetap terbuka dalam menyikapi perbedaan, serta mencintai bangsa tanpa kehilangan jati diri keislaman.
Tradisi haul merupakan warisan spiritual yang sarat makna, bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada ulama yang telah wafat, tetapi juga sebagai sarana refleksi untuk meneladani nilai-nilai luhur yang mereka tinggalkan. Dalam rangka Haul ke-58 Guru Tua, kita kembali diingatkan pada sosok besar yang telah mengabdikan hidupnya untuk umat, bangsa, dan agama.
Guru Tua dikenal sebagai pendidik yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk karakter. Dalam perjalanan dakwah dan pendidikannya, beliau menanamkan prinsip moderasi—yakni sikap tengah yang adil, tidak berlebihan, serta mampu merangkul perbedaan tanpa kehilangan prinsip. Nilai inilah yang menjadikan ajaran beliau tetap relevan di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Di sisi lain, Guru Tua juga merupakan figur nasionalis sejati. Kecintaannya terhadap tanah air tercermin dalam upaya membangun generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Bagi beliau, agama dan cinta tanah air bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam membangun kehidupan yang harmonis dan bermartabat.
Melalui pembacaan Manaqib ini, kita diajak untuk menyelami lebih dalam perjalanan hidup Guru Tua—mulai dari latar belakang kehidupan, perjuangan dalam bidang pendidikan, hingga nilai-nilai keteladanan yang diwariskan kepada umat. Harapannya, generasi saat ini mampu mengambil inspirasi dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan zaman. Abnaulkhairaat….
Jamaah Haul Rahimakumullah
Pada batu nisan makam Guru Tua ditulis, Al-Habib Al’Allamah ‘Idrus bin Salim Aljufri, pendiri Perguruan Islam Alkhairaat Palu Sul-Teng, lahir di Taris Hadhramaut pada hari Senin 14 Sya’ban 1309 H/ 15 Maret 1891 M, dan Wafat di Palu Sul-Teng hari Senin 12 Syawal 1389 H/ 22 Desember 1969 M.
Berdasarkan informasi dari anak keturunannya dan berbagai sumber yang mu’tamad, silsilah Guru Tua dapat disebutkan sebagai berikut: ‘Idrus bin Salim bin ‘Alawi bin Saggaf bin Muhammad bin ‘Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Shaikhan bin Alawi, bin Abdillah Al-Tarisi bin ‘Alawi bin Abi Bakar (Aljufri) bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin (al-Faqih al-Muqaddam) Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad (Shahib Mirbath) bin ‘Ali Khali’ Qasam bin
‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin Ubaidillah bin (Al-Muhajir Ilaa Allah) Ahmad bin Isa bin Muhammad bin ‘Ali (al-‘Uraidhi) bin Ja’far (al-Shadiq) bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zain al-‘Abidin bin Al-Husain (al-Shibthi) bin ‘Ali bin Abi Thalib, dan Ibn Fathimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulillah Saw.
Silsilah tersebut menunjukkan dua hal penting: pertama, Guru Tua berasal dari marga besar Ba’alawi, sumber keturunan para sufi dan ulama besar di Hadhramaut. Beliau berada pada generasi ke-35 dari ‘Ali bin Abi Thalib, suami Fathimah Azzahra binti Muhammad Saw. Kedua, sumber jaringan keilmuan, idiologi dan faham keagamaan bersumber dan bersambung langsung kepada Nabi Muhammad Saw,. (Berbahagialah Abnaulkhairaat, karena memiliki jaringan dan akar idiologi agama melalui Guru Tua yang bersambung kepada Rasulullah Saw).
Ayah Guru Tua, Habib Salim, pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1296 H atau 1878 M, kemudian ke Sengkang Wajo-Sulawesi Selatan. Di kota ini, Habib Salim menikah dengan Andi Sharifah Nur berdarah Arab – Bugis, keturunan salah seorang raja bergelar (Arung Matoa, orang yang dituakan) di Wajo Sengkang. Selanjutnya Habib Salim membawa istrinya ke Hadhramaut. Di sana, Andi Sharifah Nur melahirkan 6 orang anak (lima laki-laki dan satu perempuan). Guru Tua adalah putera ke-4 dari 6 bersaudara, masing-masing adalah:
- Sayyid ‘Abd. al-Qadir bin Salim Aljufri, membuka madrasah di Cianjur-Jawa Barat dan wafat di sana.
- Sayyid Shekh bin Salim Aljufri, wafat di Solo-Jawa
- Sayyid ‘Alawi bin Salim Aljufri, di Hadhramaut
- Sayyid ‘Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua), wafat di Palu-Sulawesi
- Sayyid Abubakar bin Salim Aljufri, wafat di Solo-Jawa Tengah, dan
- Syarifah Lu’lu, wafat di Hadhramaut
Jadi, Ibu dari Guru Tua, Andi Sharifah Nur, benar-benar asli warga negara Indonesia, pantaslah dikemudian hari Guru Tua memiliki nasionalisme dan faham kebangsaan Indonesia yang sangat kuat sekali. Ayahnya, Habib Salim bin ‘Alawi Aljufri, adalah seorang ulama terkemuka di Yaman dan pernah menjabat sebagai mufti di Hadhramaut, ia menulis banyak karya ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu agama, antara lain: I’anatul Ikhwan dan Syarh ‘Umdatussalik Wa‘Uddatunnasik, terdiri dari sekitar 900 hal. Kitab tersebut dicetak di Tarim Hadramaut dan menjadi rujukan pelajaran fikih di Ribath Darul Mushthafa Tarim. Begitu pula kakeknya Habib ‘Alawi bin Saggaf Aljufri, juga pernah menjabat sebagai mufti Hadramaut. Dia adalah satu dari lima orang faqih (pakar hukum Islam) yang sangat dihormati dan menjadi referensi atas fatwa hukum Islam di kalangan umat Islam di Hadhramaut. Fatwa-fatwanya terdokumentasikan dalam kitab Bughyatul Mustarshidin karya al- Imam al-Habib ‘Abd al-Rahman al-Mashhur. Khusus Fatwa-fatwa Habib ‘Alawi dalam kitab ini disimbolkan dengan huruf ج (الجفري ). Pada waktu berikutnya Guru Tua juga diangkat sebagai Mufti/qadhi oleh Sultan al-Manshur al-Katiri pada bln. Syawal 1335 H. Cukup jelas, aktivitas kependidikan dan tradisi intelektual ayah dan kakek Guru Tua ini, juga diwarisi dan menginspirasi Guru Tua baik ketika masih berada di Hadhramaut maupun setelah hijrah ke Palu-Indonesia.
Guru Tua menikah beberapa kali; pertama, ia menikah dengan puteri Sayyid ‘Umar Al-Balkhi, yang dinikahi ketika masih muda dan mempunyai seorang putri bernama Fathimah; kedua, dengan Sy. Buhayya bt. Sayyid Hasan bin Ahmad Al- Bahr, dan memiliki tiga orang putra, yaitu; Habib Muhammad bin ‘Idrus Aljufri (ayah dari H.S. Saggaf bin Muhammad Aljufri), Sayyid Salim bin ‘Idrus Aljufri (mukim dan wafat di Yaman), dan Sharifah Ragwan bt. ‘Idrus Aljufri (mukim dan wafat di Yaman). Ketiga, Setelah berada di Pekalongan-Jawa Tengah, Guru Tua menikah dengan Sharifah Aminah, bt. Sayyid Thalib Aljufri, dan dikaruniai dua orang puteri yaitu; Sharifah Lulu bt. ‘Idrus Aljufri (Ibu dari Dr. Salim Saggaf Aljufri, mantan Menteri Sosial RI), dan Sharifah Ni’mah bt. ‘Idrus Aljufri. Keempat, setelah setahun
berada di Palu (1931), Guru Tua menikah dengan putri Kaili janda bangsawan Intje Aminah (Ite) bt. Daeng Sute, dikaruniai dua orang puteri, yaitu; Sy. Sa’idah bt. ‘Idrus Aljufri, dan Sy. Sa’adiyah bt. ‘Idrus Aljufri. Kelima, sebelum menikah dengan Ite, kalangan Habaib di Wani telah menikahkan Guru Tua dengan Sy. Kalsum di desa Wani. Keenam, Ketika berada di Ampana, Guru Tua juga menikah dengan Sy. Haulah bt. Husain al-Habshi, tetapi dua pernikahannya yang terakhir, beliau tidak memiliki keturunan.
Abnaulkhairaat….
Jamaah Haul Rahimakumullah
1. Akar Nasionalisme Guru Tua.
Akar patriotisme dan nasionalisme Guru Tua yang pertama, Bahwa Ibu dari Guru Tua, Andi Syarifah Nur, adalah warga negara Indonesia, sehingga kita dapat berkata jiwa kebangsaan Guru Tua merupakan proses genetik yang mengalir dari Gen Ibunya yang sangat Indonesia. Itulah sebabnya sejak kedatangannya yang pertama pada tahun 1911 dan yang kedua pada tahun 1922 hingga ketika membuka madrasah Alkhairaat di Palu pada tahun 1930 dan pelaksanaan Muktamar Alkhairaat I pada tahun 1956, Guru Tua tidak pernah mempersoalkan PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA RI. Kedua, Idiologi dan faham keagamaannya bermanhaj Ahlissunnah Wal Jama’ah (ASWAJA), yang telah dijadikan “plat- form” bagi sikap tawassuth (moderat), terbuka, tasammuh (toleran), musaawat (kebersamaan) dan tawazun (keseimbangan).
Menurut Guru Tua, dalam soal aqidah madhhab dan thariqah, kita berpegang dan berpedoman pada aqidah yang diajarkan oleh Abu al-Hasan al-Ash’ari dan al- Qadhi Abu Bakar al-Baqillani dan al-Ustadh Abu Ishaq. yaitu akidah yang disebutkan oleh hujjah al-Islam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din yang dikenal dengan Faham Ahlissunnah Wal Jamaah.
Bahkan diperintahkan oleh waliyyul al-Qutb Abdullah al-Haddad untuk dijadikan pedoman hidup seperti ungkapannya: “Jadikanlah Aqidah ‘Ash’ariyah sebagai i’tiqadmu, sesungguhnya dia adalah metode (manhaj) atau jalan yang benar untuk menghindari kekufuran.” Demikian pula dalam bidang fiqh, Guru Tua berpegang kepada pendapat Imam al-Shafi’i dalam menetapkan hukum yang bersumber dari al- Kitab dan al-Sunnah, karena itulah madhhab yang termashhur di antara madhhab mu’tabarah lainnya. Untuk mengetahui secara lengkap silsilah tarekat dan jalur transmisi keilmuan Guru Tua, dapat dilihat dalam kutipan berikut:
وَاِنَّ حَيَاتِيْ شَافِعِيٌّ فَاِنْ اَمُتْ فَتَوْصِيَتِيْ بَعْدِيْ بِاَنْ تَتَشَفَّعُوْا وَاَمَّا الطَّرِيْقَة فَهِيَال ِ ‘صرَاطالْمُسْتَقِيْم الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ الرَّسُوْل الْكَرِيْم وَآلِ بَيْتِهِ وَصَحَابَتِهِ ثُ ‘م السَلف الصالِح التَّابِعُونَ فَتَابِع التَّابِعِيْنَ وَقَدْ نقِلَ ذَالِكَ الِْمَْام اَبُوْ طَالِبِ الْمَكِ ‘ي فِي قُوْتِهِ وَاَبُو الْقَاسِم الْقُشَيْرِ ‘ي فِي رِسَالَتِهِ ثُمَّ حُ ِ’ررَ ذَالِكَ وَقَرَّرَهُ حُجَّةُ الِْسْْلَمَِ الْغَزَالِيْ فِي اِحْيَائِهِ وَهِيَ طَرِيْقَةُ السَّادَة بَنِيْ عَلَوِ ‘ي الْحَضْرَمِيِ’يْنَ الْحُسَيْنِيِ’يْنَ تَلَقَّوْهَا طَبَقَةً عَنْ طَبَقَةٍ وَاَبًا عَنْ اَبٍ وَتُوَارِثُوْهَا مِنْ لَدُ ِ’ن الْحُسَيْن وَزَيْنَ الْعَابِدِيْنَ وَالْبَاقِروَالصَّادِق وغيرهم مِنْ اَكَابِرِ السَّلَف اِلَى الْنَْ وَنَحْنُ بِحَمْدِالله بِأُولئِكَ الْقَوْم الْمُحْسِنُوْنَ العوم بِوَاسِطَةِ شَيْخُنَا الْحَبِيْب الْفَاضِل
عِيْدُرُوْس بْنِ سَالِم بْنِ عَلَوِ ‘ي الْجُفْرِ ‘ي .
Artinya:
“Sesungguhnya kehidupanku berdasarkan madhhab Shafi’i, dan sepeninggal saya nanti saya mewasiatkan agar abna’ al-khairaat berpegang kepada madhhab Shafi’i. Tarekat yang kita ikuti adalah “al-Sirath al-Mustaqim“ (jalan lurus), yang telah ditempuh dan dilalui oleh Rasul yang mulia (Nabi Muhammad Saw.,), ahli baitnya, sahabatnya, orang-orang shaleh di kalangan ulama salaf, tabi’in, dan diikuti pula oleh tabi’ittabi’in. Ditransmisikan dari tahap demi tahap dari satu bapak ke bapak berikutnya yang diwariskan melalui Husain dan Zain al-‘Abidin dan Muammad al-Baqir kepada Ja’far Shadiq, dan selain mereka dari kalangan pemuka salaf hingga sekarang. Segala puji bagi Allah, kita (abna’ al-khairaat) mengikuti jejak mereka sebagai
orang-orang yang terpuji melalui perantaraan Guru kita al-Habib al-Faḍil ‘Idrus bin Salim bin ‘Alawi Aljufri. Beliau terima dari ayahnya al-Habib Salim, dari al-Habib ‘Idrus bin ‘Umar yang diterima dari al-Habib al-Quthb al- Haddaad yang menjadi sumber sanad tarekat tersebut…
Sangat jelas, bahwa tarekat tersebut sekaligus sebagai basis ideologi keagamaan dan nasionalisme kebangsaan serta jaringan transmisi keilmuan Guru Tua dan abna’ al-khairat. Penting dicatat, beberapa tradisi keagamaan dan kebangsaan yang dipraktikkan, baik oleh Guru Tua sendiri maupun abna’ al-khairat, seperti tahlilan, yasinan, debaan, barzanji, mencium tangan ustadh (guru), ziarah makam para auliya, manaqib dan haul, merupakan ekspresi dari bentuk kepenganutan kita terhadap teologi atau aqidah Ash’ariyah, tasawuf al-Ghazali dan thariqah al-Shirathul Mustaqim tadi.
Abnaulkhairaat….
Jamaah Haul Rahimakumullah
2. Momentum Perjuangan dan Nasionalisme Guru Tua.
Pertama, peristiwa besar yang menyebabkan Guru Tua hijrah ke Indonesia pada tahun 1922 berkenaan dengan sikap politiknya yang tidak mau kompromi dengan kolonial Inggris, yang menjajah Hadhramaut. Guru Tua bersama sahabatnya ‘Ubaidillah al- Saggaf, mewakili para pejuang Hadhramaut, membawa “Dokumen Piagam Politik” yang ditujukan kepada para pemimpin Arab; Yaman Utara, Mesir serta Sekretaris Jenderal Liga Arab untuk memperoleh dukungan perjuangan pembebasan Hadhramaut dari penjajahan Inggris. Namun ketika sampai di pelabuhan Aden, keduanya ditangkap oleh serdadu-serdadu Inggris dan dokumen politik yang dibawa pun disita. Saat itu juga mereka dibebaskan, tapi diberikan pilihan kembali ke Hadhramaut sebagai tahanan kota atau merubah rute perjalanan ke Asia Tenggara. Guru Tua memilih Asia Tenggara dengan tujuan Indonesia, sedangkan ‘Ubaidillah menuju Timur Tengah (Makkah).
Kedua, Pada tahun 1925 Sayyid Idrus bin Salim Aljufri Meninggalkan Yaman menuju Batavia Indonesia, untuk kedua kalinya. Kedatangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ke Indonesia untuk pertama kalinya bersama ayahnya (Sayyid Salim Aljufri) pada tahun 1296 H/1878M. ketika itu ia masih berumur +17 tahun. Kedatangannya yang pertama ini adalah untuk mengunjungi keluarganya di Jawa dan Sulawesi. Sedangkan kedatangan untuk kedua kalinya ini berhubungan dengan pergolakan di Yaman dan perjuangan menentang imperialisme Inggris. Sayyid Idrus bin Salim Aljufri setelah tiba di Indonesia tinggal di Batavia (Jakarta) beberapa waktu kemudian ke Pekalongan. Di sana Sayyid Idrus menikah dengan Aminah binti Thalib AlJufri. Dan mulai mengambil pilihan perjuangannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menjadi Pendidik (guru ). Untuk itu, Sayyid Idrus pindah ke Jombang, Jawa Timur, sebuah pusat Islam tradisional tempat Sayyid Idrus bertemu dengan KH. Hasyim Asy’ari salah seorang pendiri Nahdatul Ulama (NU) yang didirikan pada tahun 1926 M. Sayyid Idrus tinggal di Jombang selama dua tahun. Kemudian Sayyid Idrus pindah ke Solo Jawa Tengah, karena di minta untuk menjadi guru dan direktur madrasah Rabithah Alawiyah di sana. Kini sekolah tersebut telah berubah nama menjadi “Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro”, setelah + 2 tahun memimpin madrasah tersebut dan mencapai kemajuan yang signifikan., beliau kemudian mengajukan pernyataan berhenti dari jabatannya dan mengundurkan diri. Akhirnya ia meninggalkan Solo , Jawa Tengah dan berlayar Menuju Sulawesi Utara untuk mengunjungi dua kakaknya yang sudah terlebih dahulu bermukim di Tondano, yaitu Sayyid Syaikh bin Salim Al Jufri dan Sayyid Alwi bin Salim Al Jufri. Sebelum sampai ke Tondano, Sayyid Idrus singgah di Donggala.
Ketiga, Ketentuan Allah telah berlaku. Walaupun kedatangannya ke Donggala atas undangan beberapa habaib; Sayyid Mahmud al-Rifa’i, Sayyid Ahmad bin ‘Ali al- Muhdhar, dan Sayyid Ibrahim bin Zen al-Mahdali, untuk membuka dan memimpin madrasah di desa Wani, tetapi waktu itu tidak diizinkan oleh Belanda. Maka atas
permintaan Magau Ijazah melalui ponaan Guru Tua Habib ‘Abd. al-Rahman Aljufri, bahwa Controleur Belanda sudah memberi izin untuk membuka madrasah di Palu, hingga akhirnya diresmikanlah madrasah Alkhairaat tahun 1930. Guru Tua memang bukan orang pertama yang menyebarkan Islam di Palu, Tapi beliau adalah orang pertama yang membangun sistem pendidikan di daerah ini lalu menyebar kekawasan timur. Guru Tua mulai mengajar di sebuah toko kecil milik Haji Quraish di Kampung Ujuna, tempatnya terdiri dari dua petak, satu untuk madrasah dan satu lagi untuk asrama santri. Kemudian berpindah tempat menyewa kolong rumah milik Haji Dg. Marotja di depan Masjid Jami’ Kampung Baru, hingga akhirnya Guru Tua membeli sebidang tanah seluas setengah hektar, dan dibangunlah gedung madrasah yang pertama pada tahun 1933/1934, selanjutnya pada tahun 1954 Guru Tua membangun gedung madrasah Alkhairaat yang kedua dari konstruksi kayu terdiri dari dua lantai.
Abnaulkhairaat….
Jamaah Haul Rahimakumullah
Habib Idrus bin Salim al-Jufri memiliki peran yang sangat penting dalam konteks social-politik dan keagamaan Masyarakat Sulawsei tengah dan kawasan Timur Indonesia secara Umum. Selain itu, beliau juga memiliki karakter personal yang baik dan mengagumkan bagi setiap orang yang mengenalinya.
Guru Tua dikenal sebagai sosok ulama dan pendidik yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Sistem pendidikan yang beliau bangun berlandaskan pada prinsip moderasi (tawasuth), keseimbangan, serta kasih sayang sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran.
Dalam pandangan Guru Tua, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses pembentukan karakter yang utuh. Beliau menanamkan ajaran Islam dengan pendekatan yang lembut, penuh hikmah, dan jauh
dari sikap keras maupun pemaksaan. Inilah yang menjadikan ajaran beliau mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat, tanpa memandang latar belakang sosial maupun budaya.
Moderasi yang diajarkan Guru Tua tercermin dalam sikapnya yang terbuka terhadap perbedaan, menjunjung tinggi toleransi, serta mengedepankan persatuan umat. Beliau mengajarkan bahwa menjadi muslim yang baik tidak berarti menutup diri, tetapi mampu hidup berdampingan secara damai dengan sesama.
Lebih dari itu, pendidikan berbasis cinta menjadi ciri khas utama dalam metode dakwah dan pengajaran beliau. Cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Rasulullah SAW, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada tanah air menjadi nilai-nilai yang terus ditanamkan kepada para muridnya. Dengan cinta, ilmu menjadi cahaya; dengan cinta, perbedaan menjadi rahmat; dan dengan cinta, perjuangan menjadi keikhlasan.
Melalui pendekatan ini, Guru Tua berhasil melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kelembutan hati, akhlak yang mulia, serta komitmen kuat terhadap agama dan bangsa.
Warisan pendidikan inilah yang hingga kini tetap hidup dan relevan. Di tengah berbagai tantangan zaman, nilai-nilai moderasi dan cinta yang diajarkan Guru Tua menjadi solusi dalam menjaga harmoni, memperkuat persatuan, dan membangun peradaban yang berkeadaban.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita tidak hanya mengenang beliau, tetapi juga melanjutkan perjuangan dengan menghidupkan kembali sistem pendidikan yang berlandaskan cinta, toleransi, dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikisahkan oleh Habib saggaf bin Muhammad aljufri bahwa sebagai seorang guru dan pendidik, Guru tua adalah orang yang memilik rasa cinta, kasih sayang dan
kelapangan dada yang luar biasa, suatu hari seorang keturunan Arab yang bernama Habib Hasan alIdrus yang tinggal di Tawanjuka setiap sore mendatangi kediaman Guru Tua dengan menunggangi kuda untuk mengikuti majelis Roha (Qira’ah kutub) yang di bina oleh Guru Tua. ketika habib hasan selesai menambatkan kudanya ia menemukan banyak piring-piring yang biasa di pakai untuk makan sehari-hari oleh santri-santri Guru Tua bertebaran di tanah disekitar asrama tempat tinggal para santri, lalu beliau mengumpulkannya. Hal itu di laporkan oleh Habib Hasan kepada Guru Tua ia berkata :
“wahai Habib Idrus murid-muridmu itu banyak yang nakal dan kurang ajar, mereka setelah selesai makan membuang begitu saja peralatan makan yang mereka gunakan, mereka tidak serius belajar. Sebaiknya mereka di pecat saja sebagai santri”.
Guru Tua menjawab :
“ya hasan law shalah wahid minhum istafadnaa” (wahai hasan seandainya satu orang saja diantara mereka menjadi baik karena pembinaanku, saya sudah beruntung).
Guru Tua sama sekali tidak marah mendengar laporan terserbut. Sikap Guru Tua yang penyayang terhadap murid-muridnya hendaklah menjadi teladan yang dapat dicontoh oleh guru-guru saat ini. Menteri Agama saat ini sedang mendorong terbangunnya system pendidikan yang didasarkan pada sifat kasih dan sayang yang dirumuskan dalam bentuk “kurikulum cinta” untuk diterapkan di sekolah-sekolah dilingkungan Kementerian Agama RI. Alkhairaat harapannya dengan nilai-nilai yang diteladani oleh Guru Tua dapat menjadi lokomotif utama di kawasan Timur Indonesia untuk menerapkan kurikulum cinta tersebut.
Dikisahkan pula oleh Prof Dr. Ahmad Bachmid bahwa Guru Tua memiliki rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja yang membutuhkannya, mulai dari yang meminta fatwa agama, nasehat, penyelesaian terhadap pertikaian keluarga dan lain-lain. Beliau juga menampung dirumahnya anak-anak orang miskin, yatim piatu yang ingin sekolah di Madrasah Alkhairaat tanpa memungut biaya sepeser pun. Guru tua juga sangat ramah dengan semua orang, baik yang ia kenal maupun tidak.
Pilihan Guru Tua untuk mendirikan Madrasah Alkhairaat pada tahun 1930 di kota palu. Merupakan Pilihan strategis untuk melakukan perlawan terhadap kolonial belanda. Mengembangkan pendidikan Di zaman Kolonial Belanda bukanlah hal yang mudah, terbukti pemerintah Kolonial membuat keputusan yang mempersulit proses perkembangan madrasah Alkhairaat dengan menetapkan kewajiban pajak bagi setiap siswa-siswi Alkhairaat.
Guru Tua yang dikenal berani, mengerahkan siswa-siswinya melakukan demonstrasi kekantor Controleur ( Pengawas ) pemerintah Kolonial Belanda, menuntut pembatalan kewajiban pajak bagi siswa-siswi Alkhairaat tersebut. Khawatir masalah itu akan meluas, Tuntutan para siswa tersebut akhirnya dikabulkan oleh Controleur dengan membatalkan surat keputusannya itu.
Pada masa kolonial Jepang, Guru Tua yang dikenal sangat berani, tidak pernah melakukan seikere atau membungkuk dengan menundukkan kepala kepada Jepang tetapi cukup dengan mengangkat tangannya saja. Sikat kesatria dan semangat juang beliau makin terlihat ketika Kolonial Jepang menutup perguruan Alkhairaat. Beliau dengan resiko nyawa yang terancam, secara sembunyi-sembunyi dimalam hari tetap mengajar di rumahnya yang berlokasi di Boyaoge 1500 meter dari lokasi madrasah yang ditutup oleh Jepang. Selama tiga setengah tahun Guru Tua mengajar sembunyi-sembunyi dengan menggunakan lampu pelita yang mengakibatkan matanya tidak dapat melihat. Sehingga ia berangkat ke Manado untuk mengobati matanya sesudah usainya pendudukan Jepang.
Dikisahkan pula pada tahun 1959 semangat juang Guru Tua seakan tidak mengenal lelah, Guru Tua bersama 2 orang muridnya yaitu Ustadz Masyhur dan Ustadz Daeng Mariya berangkat dari kota palu dengan menaiki gerobak menuju Desa Bora
kemudian dari sana melanjutkan perjalanan ke Palolo menerobos hutan Palolo dengan menunggang kuda yang diperkirakan jarak perjalanan tersebut sekitar 15-20 km., perjalanan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk untuk membuka madrasah Alkhairaat di Palolo. Saat itu Guru Tua menunjuk muridnya ustadz masyhur untuk tinggal dan mengajar disana.
Demikianlah semangat juang guru tua, Beliau tidak pernah mundur dan merasa khawatir menempuh perjalanan jauh, berhari-hari bahkan berminggu-minggu dengan transportasi yang masih sangat terbatas dan sulit pada masa itu berani menerobos dan mendatangi daerah-daerah terpencil baik lewat laut maupun darat.
Abnaulkhairaat….
Jamaah Haul Rahimakumullah
Kempat,Ketika Belanda melancarkan politik DEVIDE ET EMPERA (memecah belah), Guru Tua melawannya dengan cara perkawinan antar suku yang berbeda dari para murid-muridnya. Belanda semakin memperketat kontrolnya terhadap aktifitas Guru Tua dan murid-muridnya.
Kelima, Pada masa pendudukan Jepang, tentara Jepang menemukan salah satu santri Alkhairaat membawa kitab ‘Izhah al-Nashi’in, karya Musthafa Al-Ghalayini, yang berisi membangkitkan api patriotisme dan nasionalisme pemuda, akhirnya buku tersebut disita dan madrasah Alkhairaat dipaksa ditutup. Selama masa pendudukan Jepang, sebelum dan sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, Guru Tua mewajibkan santri-santri Alkhairaat mengikat pita merah putih pada songkok hitam dan memakai baju seragam berwarna putih sebagai seragam wajib di sekolah, menyanyikan lagu- lagu kebangsaan Alkhairaat; Hayya Bina Syubbanal Islamiyyah…, kulluna Lil Wathan ruhuna Wal Badan…,Tahyal2 Madaris…,dll. Sebelum akhirnya Jepang menyerah kepada sekutu. Setelah sekitar 3 tahun madrasah Alkhairaat istirahat, Guru Tua mengaktifkan kembali madrasah Alkhairaat di seluruh wilayah dan cabang di Indonesia Timur, seiring dengan diproklamirkannya kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh Presiden Soekarno dan Moh. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.
Dengan aktifnya kembali madrasah Alkhairaat, Guru Tua hendak menegaskan kepada bangsa Indonesia, bahwa dalam kondisi apa dan bagaimanapun proses kependidikan untuk mencerdaskan anak bangsa tidak boleh berhenti apalagi mati. Maka bagi Guru Tua, proklamasi kemerdekaan NKRI merupakan momentum yang sangat penting bagi bangsa Indonesia agar lebih bebas mendidik dan mencerdaskan rakyat dari keterbelakangan dan kebodohan. Sebagai tanda sukacita dan syukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan tersebut, Guru Tua menulis syiir hari proklamasi dan Sang Merah Putih:
رَايَةَ الْعِ ز رَفْرَفِي فىِ سَمَاءِ اَرْضُهَا وَجِبَالُهَا خَضْرَاءُ
اِنَّ يَوْمَ طُلُوْعِهَا يَوْمَ فَخْرٌ عَظَمَتُهُ الَْْبَاءُ وَالَْْبْنَا ء
كُلُّ عَامِ يَكُوْنُ لِلْيَوْمِ ذِكْرَى يَظْهَرُالشُّكْرُ مِنْهُمْ وَالثَّنَا ء
لِلَِْلهِ الْكَرِيْمِ يَدْعُوْنَ جَهْرًا حَيْثُ نَالُوا الْمَنَى وَزَال العنَاء
كُلُّ اُ مةٍ لَهَا رَمْزُ عِ ز وَرَمْزُ عِ زنَا الْحَمْرَاءُ وَالْبَيْضَا ء
يَاسُوْكَرْنُو حُيَّيْتَ فِيْنَا سَعِيْدًا بِالدَّوَاءِ مِنْكَزَالِ عَنَّا الدَّاءُ
اَيُّهَا الرَّءِيْسُ الْمُبَارَكَ فِيْنَا عِنْدَكَ الْيَوْمَ لِلْوَرَى الْكِمْيَا ء
بِالْيَرَاعِ وَبِال سيَاسَةِ فَقْتُمْ وَنُصِرْتُمْ بِذَا جَاءَتِ الَْْنْبَاء
لَْ تُبَالُوا بِانَْفُسٍوَبَنِيْنَ فىِ سَبِيْلِ الَْوْطَانِ نِعْمَ الْفِدَاءَ
خُذْ اِلَى الَْْمَامِ لِلْمَعَالِى بِايَْدِى سَبْعِيْنَ مِلْيُوْنا اَنْتَ وَالْزُعَمَاءُ
فَسَتَلْقَى مِنَ الرَعَايَاقَبُوْ لْ وَسَمَاعًا لِمَا تَقُوْلُهُ الرُّؤَسَا ء
وَاعْمُرُوا لِلْبِلََدِ حِسًّا وَمَعْنىَ وَبَرْهِنُوْا لِلْمَلََءِ اَنَّكُمْ اكَفَاءُ
اَيَّدَاللهُ مُلْكَكُمْ وَكَفَا كُمْ كُلَّ شَ ر تَحُوْكَهُ الَْْعْدَاءُ
Artinya:
“Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa, daratan dan gunung- gunungnya hijau.Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan, dimuliakan oleh orang tua dan anak-anak.
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan, muncul rasa syukur dan puji-pujian.
Kepada Allah yang Maha Pemurah mereka berdoa terang-terangan, dimana mereka menggapai cita-cita dan hilanglah rasa kepayahan.
Tiap bangsa memiliki lambang kemuliaan, lambang kemulian kita (Indonesia) adalah Sang Merah Putih.
Wahai Soekarno! jadikan hidup kami bahagia, dengan obatmu hilang sudah sakit kami.
Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami, engkau hari ini laksana kimia bagi rakyat Indonesia.
Dengan perantaraan pena dan politikmu engkau unggul, engkau menang dengannya telah datang berita.
Jangan risaukan jiwa dan anak-anak, demi tanah air alangkah indah penebusan.
Bergandengan tanganlah menuju ke depan untuk kemuliaan, tujuh puluh juta jiwa dan para pemimpin akan bersamamu.
Pasti engkau jumpai kepercayaan dari rakyat, dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin.
Makmurkanlah! untuk negara Indonesia pembangunan spiritual dan material, buktikan kepada rakyat bahwa kamu mampu.
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu, dari tiap kejahatan yang direncanakan para musuh”.
Membaca pemikiran Guru Tua, pada teks syiir di atas, paling tidak mengandung beberapa pesan substantif yaitu: pertama, Guru Tua menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya dengan sumberdaya alam. Kedua, Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah anugerah Allah Swt. yang patut disyukuri. Ketiga, Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Sang Merah Putih. Keempat, menyatakan sikap soliditas dan komitmen kebangsaan abnaulkhairat mendukung pemerintahan Soekarno-Hatta yang sah. Kelima, memberi motivasi moril kepada Soekarno-Hatta, untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan material dan spiritual sekaligus memberikan peringatan kepadanya, agar tidak terjebak pada kebijakan yang merugikan rakyat. Keenam, mendoakan Presiden Soekarno agar terhindar dari kejahatan lawan-lawan politiknya.
Jadi, bentuk nasionalisme Guru Tua, tidak melalui perjuangan fisik untuk mengusir penjajah atau pun melalui partai politik untuk meraih kekuasaan dalam institusi negara, melainkan dengan mendirikan madrasah atau Pesantren Alkhairaat di Indonesia Timur, untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan sejak 15 tahun sebelum Indonesia merdeka (1930-1945). Nasionalisme dan pemikiran politik keislaman dan kebangsaan Guru Tua, hadir melalui beberapa tahapan, yaitu pertama, periode tahun (1930-1945), muatan ideologis pada shiir-shiirnya bercirikan motivasi kepada masyarakat Palu untuk belajar menuntut ilmu, membangun komunikasi dengan raja-raja lokal, meyakinkan publik bahwa ideologi keagamaannya bersifat moderat, pentingnya persatuan, dan urgensi ilmu pengetahuan bagi bangsa yang terjajah. Kedua, periode tahun (1945-1965), pemikiran politik keislaman dan kebangsaannya semakin tajam dengan ciri; urgensi membela NKRI, kritik terhadap imperialisme dan kolonialisme, komunisme (G.30S/PKI), Permesta, dan DI/TII Abdul Qahar Muzakkar. Memperkuat toleransi antara umat Islam (Zubair Garupa Muhammadiyah asal Padang, Syafi’i, Kepala Sekolah PGA pertama Palu) mengajar
di Alkhairaat. Toleransi antara umat Islam dan kalangan non Muslim (Kasus P.K Entoh mengajar ilmu Al-Jabbar di Alkhairaat tahun 1955-1960). Ketiga, periode tahun (1965-1969), memiliki ciri kritik akomodatif terhadap raja-raja lokal, pemerintah dan partai politik, konsolidasi madrasah dan organisasi Alkhairaat. Guru Tua bersahabat dengan Raja Magau Tjaco Ijazah (Palu), Raja Djanggola (Palu), Raja Lamakarate (Sigi), Raja Banggai (Banggai), dan Raja Tombolotutu (Tinombo) dan Raja Tanjung Bulu.
بالعلم يسمو كل شعب فى الورى وينال ما بين الشعوب المفخرا
والمرء قد يعلو على اقرانه ان حظه فى العلم كان الْوفرا
بالعلم والْخلَق ادراك المنى ان رمت علما لْ تكن متكبرا
Artinya:
“Dengan ilmu setiap bangsa menjadi tinggi di antara umat manusia, dan mencapai kemuliaan di antara bangsa-bangsa. Manusia terkadang mengungguli teman-temannya, jika ia memiliki perbendaharaan ilmu. Dengan ilmu dan akhlak tercapai cita-cita, jika engkau ingin mendapatkan ilmu janganlah sombong”
Nasionalitas Guru Tua berbeda dengan kalangan keturunan Hadramaut lainnya seperti diperlihatkan oleh Jami’at Khair dan Al-Irsyad. Dalam masa tertentu, sebagian keturunan Hadramaut masih tetap setia terhadap tanah air asal nenek moyang mereka yaitu Hadramaut sebagai identitas kebangsaannya, dan mempertahankan stratifikasi sosial sayyid-non-sayyid, Mereka juga mengalami pasang surut dalam perdebatan mengenai nasionalisme Indonesia. Sedangkan Guru Tua, tidak pernah mempersoalkan stratifikasi sosial tersebut, dan tidak pernah meragukan identitas kebangsaannya sebagai orang Indonesia. Madrasah Alkhairaat yang mayoritas murid-muridnya dari kalangan pribumi diliburkan pada hari Jum’at dan sekolah pada hari Ahad, sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda yang menyokong Zending-Kristen. Guru Tua juga melibatkan raja lokal Palu dan memobilisasi warga Palu untuk mendukung pendirian madrasah Alkhairaat. Kiprah kebangsaan Guru Tua menambah bukti dalam memahami perdebatan nasionalisme Indonesia di kalangan keturunan Hadramaut.
Para muridnya dari generasi Tua; KH.Muh.Gasim Maragau, H.S. Muhsen Al-Rifai, Dg. Maria Djaelangkara, Haruna Pakawaru, KH.Nurhasan Naser, Ust.Aidid Al- Hasni, KH.Abdul Hay Abdullah, KH.Rustam Arsyad, KH.Nawawian Abdullah KH.Zainal Abidin Betalembah, KH.Abd.Salam Thahir,..dan generasi berikutnya; KH. Mahfudh Godal, KH.Hasbullah Arsyad, KH. Muhammad Naser, KH. Ismail Adam, KH. Muh.Said Abdullah, KH.Syakir Hubaib (Mereka inilah yang disebut oleh Guru Tua sebagai الخيرات باكورة ) dan semua murid sesudanya adalah pewaris ilmu dan tiang penyanggah Guru Tua dan perhimpunan Alkhairaat hingga akhir hayat. Namun mereka semua mengakui kelanjutan kepemimpinan Guru Tua kepada anak keturunannya khususnya kaderisasi Guru Tua terhadap cucunya H.S Saggaf bin Muhammad Aljufri. H.S.Saggaf bin Muhammad Aljufri, sejak semula telah dipersiapkan oleh Guru Tua untuk menjadi pemimpin masa depan Alkhairaat.
بِعَوْنِ اللهِ فَارْحَلْ يََ حَفِيْدِى مَعَ تِلْمِيْذِكُمْ عَبْدِ اْلحَمِيْدِ
مِنَ الخَْيْرَاتِ من سولاويسى فَالُو اِلََ اَرْضِ الكِنَانَةِ مِنْ جَدِيْدِ
فَطُوْفَا فِِ ن وََاحِيْ هَا جََِيْ عًا وَلَا تَ نْسَا حَِِى ب وُْرِالسَّعِيْدِ
اِلََ مِصْرَ اَلَّتىِ مُنْذُ قَدِيِْْ ت رَُ حبُ بِالقريبِ وَبِالبَعيْدِ
مِنَ الطُلاَّبِ مِنْ كُ ل النَّ وَاحِى بَِِسْجِدِهَا وَاَزْهَرِهَا السَّعِيْدِ
فَاِنَّ بَِِا لَكُمْ مَا قَدْ سَاَلْتُمْ وَهذَا جَاءَ فِِ النَ صاْلَمجِيْدِ
اِلَيْ هَا فَارْحَلَا بِقَوِ ى عَزمٍ فَاِنَّ اَمَامَكُمْ كَمْ مِنْمُرِيْدِ
فَفِى ي وَْمِ الرَّحِيْلِ يَكُوْنُ حُزْنِِ وَفِِ ي وَْمِ الْوُصُوْلِ يَكُوْنُ عِيْدِيْ
فَ بُشْرَى يََ بَنِِ اْلخَيْرَاتِ بُشْرَى فَسَعْدُكُمْ بَدَا سُعْدُ السُّعُوْدِ
وَعَيُْْ اللهِ تَ رْعَا كُمْ جََِيْ عًا بِِِفْظٍ فِىالصُّدُوْرِ وَفِِ الوُرُوْدِ
ِArtinya:
“Dengan bantuan dan pertolongan Allah berangkatlah wahai cucuku, bersama muridmu Abdul Hamid.
Dari Alkhairaat Sulawesi Palu menuju negeri Kinanah yang baru. Jelajahilah semua penjuru, dan jangan kamu lupa Buri al-Said
Ke Mesir yang sejak dulu dikunjungi orang, baik dari negeri yang dekat maupun yang jauh.
Para mahasiswa datang dari segala penjuru, karena keagungan Masjid dan Al-Azharnya.
Sungguh kamu akan mendapatkan apa yang kamu minta, dan ini terdapat dalam nash (Al-Quran) yang mulia.
Berangkatlah menuju ke sana dengan tekad yang kuat, karena sesungguhnya di hadapan kamu ada orang yang menginginkannya.
Pada hari keberangkatanmu sebuah kesedihan, tapi hari kepulanganmu (kedatanganmu) adalah hari raya (kebahagiaan) bagiku.
Bergembiralah wahai putera-puteri Alkhairaat dengan sepenuh gembira, kebahagiaanmu telah muncul dengan cemerlang.
Semoga Allah menjaga kamu semua, dari waktu berangkat hingga kembali”.
Penggalan kata pada kalimat “ ِتْلِمْيذُِكم َمَع “ penggunaan dhamir antum pada kalimat tersebut menurut KH. Syakir hubaib merupakan isyarat bahwa habib Saggaf akan menjadi guru bagi semua Abnaulkhairat. Demikian pula Penggalan kalimat “pada hari keberangkatanmu sebuah kesedihan, tapi hari kepulanganmu (kedatanganmu) setelah studi dari Al-Azhar Mesir merupakan Hari Raya (kebahagiaan) bagiku dan abna’ al-khairat”, menyiratkan harapan sekaligus isyarat, bahwa “inilah Saggaf bin Muhammad Aljufri, generasi pengganti Guru tua untuk memimpin Alkhairaat. Bahkan kaderisasi itu telah dilakukan oleh Guru Tua jauh sebelum H.S. Saggaf dan Abdul Hamid studi ke Al-Azhar Mesir. Tepatnya pada akhir 1950, ketika berada di Pekalongan, Guru Tua berkata kepada KH.Abd Salam Thahir sebagai berikut:
يََ عَبْدالسَّلَام بُكْرَةً بَانُسَافِر إِلََ فَالُو مَعَ سَقَّاف. سَقَّاف ي تََ عَلَّمُ فِِ الخَْيْرَاتِ فَالُو لَِِنَّ مدرسة الخيرات فالو
فِيها برَكة, سقاف بَا يَكُوْنُ بَدِيْلِيْ وَخَلِيْ فَتِْ
Artinya:
Ya Abd.Salam! besok kita berangkat ke Palu bersama-sama dengan Saggaf. Dia akan sekolah pada madrasah Alkhairaat Palu yang penuh berkah. Saggaf akan menjadi pengganti saya nanti.
Artinya:
Setelah H.S. Saggaf menyelesaikan studinya di Al-Azhar Mesir pada tahun 1967, H.S. Saggaf kembali ke Palu dan ternyata tidak hanya mendatangkan kegembiraan bagi Guru Tua, tapi juga membawa kekuatan intelektualisme dan dinamika baru di lingkungan Pesantren Alkhairaat, seperti terbaca pada shair berikut:
مِنْ مِصْرَ سَقَّافُ اَتََنََ مُرْشِدًا وَمُعَل مًا لِلْمُنْ تَهِى وَالْمُبْ تَدِى
قَدْ جَاءَنََ بِالعلْمِ ي هَْدِيْهِ لَنَا وَالله يََْتِيْ نَا بَِِامِدِ مََْمَدِيْ
بِقُدُوْمِهِ جَاءَالسُّرُوْرُ وَزَحْزِحَتْ عَنَّاالْكُدُوْرُ وَن يَْلَ طِيْ بُالْمَرْقَ د
وَاَنََ بِِمْدِاللهِ مَسْرُوْرٌ بِهِ وَسُرُوْرَنََ عَنْهُ مُقِيْمِى وَمَقْعِدِى
اِنَّ السُّرُوْرَ بِكُ ل قَ لْبٍ طَافِحٌ بِقُدُوْمِهِ وَقْتَ العَشِ يِ وَبِالغَدِ
طَرَبًا بَنَِِ الخَْيْرَاتِ هذَاسَعْدُكُم قَدْ ظَلَّكُمْ نََْمٌ كَنَجْمِ الفَرْقَدِ
بِعُلُوْمِهِ يَسْمُوْبِكُمْ نََْوَ اْلعُلَى لَا ي بَْخَلَنَّ عَلَيْكُمْ بِالسُّوْدَدِ
فَخُذُوْهُ مِنْهُ بِالتَّ وَاضُعِ تَ غْنَمُوْا وَخُذُوْهُ بِالِْْخْلَاصِأَخْذًا بِالْيَدِ
يََاَي هَُّا الخَيْرَاتُ قَدْجَاءَاَّلذِى قَدْ كُنْتَ اَرْجُو اَنْ يَكُوْنَ مُسَاعِدِى
هَذَا الَّذِى قَدْكُنْتُ اَرْجُوْهُ لَكُم فَ لْتَ قْبَ لُوْا مِنْهُ بِقَصْدٍ جَي دِ
شَأْنَُلْمَدَارِسِ ق وُْتُُُوَغِذَاؤُهُ وَالْقَلْبُ مِنْهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ
فَاللهُ يََْفَظُهُ وَي عُْلِى شَأْنُهُ وَيُدِيْْهُُ ن فَْعًا لِكُ ل مُوَ حدِ
فَاصْرِفْ زَمَانَكَ فِِ تَ عَالِيْمِ الوَرَى لَاتَ بْ تَغِ بَدَلاً لِِذَا الْمَقْصَدِ
هذَا هُوَ الشَّرَفُ الَّذِى مِنْ دُوْنِهِ كلُّ الْمُنََ وَبِغَيْرِهِ لَا ن بَْ تَغِى
اْلبَاباُلَّذِىيَأْوِيْ اِلَيْهِالْمُهْتَدِى فَاحْرِصْ عَلَيْهِ يََ بُنََِّ فَاِنَّه
“Dari Mesir Saggaf mendatangi kita untuk menjadi murshid (pemandu spiritual) dan guru bagi senior maupun yunior.
Sungguh dia mendatangi kita dengan ilmu yang akan membimbing kita, dan Allah juga akan mendatangkan kepada kita Hamid Muhammadi.
Dengan kedatangannya, hadirlah kegembiraan dan kemeriahan serta sirna semua duka dan derita, tidur pun menjadi nyenyak
Gembiralahlah wahai Abna’ al-Khairat inilah kebahagiaan kalian, kalian telah dinaungi oleh bintang laksana bintang kejora.
Dengan ilmunya akan mengantarkan kalian pada kemuliaan, ia tidak akan kikir dalam memberikan ilmunya kepada kamu.
Ketika Sulawesi Tengah dipimpin oleh Brigjend AM.Tambunan, dia menuduh bahwa Alkhairaat akan menjatuhkan dirinya. Maka Alkhairaat mengambil sikap kritis terhadap kepemimpinan beliau. Akhirnya H.S.Saggaf diundang berbicara empat mata. Dalam pertemuan itu, HS.Saggaf bertanya kepada Gubernur Tambunan; apakah bapak ingin dipuji oleh Alkhairaat atau dikritik? Tambunan kemudian menjawab, saya suka dikritik. H.S. Saggaf mengkritik kebijakan Gubernur Tambunan: Pertama, di kantor bapak ini (kantor Gubernur Sulawesi Tengah), mayoritas pejabat dan pegawai yang diangkat, didominasi oleh Batok (Batak, Toraja dan Kristen), padahal banyak putera daerah seperti orang-orang Kaili dan Bugis Makassar yang memenuhi syarat dan berkualitas, tapi diabaikan oleh bapak. Kedua, semua dokter yang diangkat oleh bapak, dan disebarkan ke seluruh wilayah Sulawesi Tengah beragama Kristen, padahal mayoritas penduduk Sulawesi Tengah adalah Muslim. Ketiga, gereja banyak dibangun dan tumbuh dimana-mana seperti jamur di musim hujan, sementara Masjid dibiarkan reot tidak diperhatikan, padahal penduduk Sulawesi Tengah mayoritas Muslim.
Hasil dari perdebatan Alkhairaat dan Gubernur Tambunan adalah; lahirnya para Gubernur dari putra daerah seperti Galib Lasahido, Abd.Aziz lamadjido. Demikianlah model kepemimpinan H.S.Saggaf bin Muhammad Aljufri yang berakar dari empat pilar kepemimpinan Guru Tua yang diwariskan kepada anak cucunya; pertama, kematangan ilmu pengetahuan, kedua, kematangan akidah dan idiologi, ketiga, kematangan emosional, dan keempat, kematangan mengambil keputusan.
Saat ini estafet kepemimpinan di Alkhairaat pasca wafatnya Habib Saggaf bin Muhammad AlJufri telah berlanjut pada generasi berikutnya; Alkhairaat telah dipimpin oleh Ketua Utama yang baru yaitu Habib Alwi bin Saggaf AlJufri. Dalam menghadapi situasi kekinian dan tantangan masa depan yang semakin kompleks, saya mengajak kepada seluruh Abna Alkhairaat untuk merapatkan barisan, mengambil peran aktif dalam mendukung, membantu dan mendoakan agar beliau dapat mengantarkan alkhairaat menjadi semakin maju dan sukses.
Sikap demikian juga sebagai bentuk ketegasan kita terhadap AD/ART sebagai Pilar Ketaatan dan Keberlangsungan Alkhairaat
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kesepakatan luhur yang lahir dari ijtihad,
pemikiran, dan pengalaman para tokoh Alkhairaat. Di dalamnya terhimpun nilai, arah perjuangan, serta prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam menjalankan organisasi. Oleh karena itu, AD/ART harus dipahami sebagai acuan bersama yang mengikat seluruh elemen, tanpa pengecualian.
Pertama, ketaatan terhadap AD/ART adalah bentuk ketaatan terhadap Guru Tua. Sebab, nilai-nilai yang terkandung dalam AD/ART merupakan kristalisasi dari ajaran, visi, dan perjuangan beliau yang diterjemahkan oleh para penerusnya. Maka, ketika seseorang patuh pada aturan organisasi, sesungguhnya ia sedang menjaga amanah keilmuan dan perjuangan Guru Tua. Sebaliknya, mengabaikan AD/ART berarti membuka ruang bagi penyimpangan dari garis perjuangan yang telah ditetapkan.
Kedua, AD/ART adalah penjaga stabilitas dan persatuan organisasi. Dalam dinamika kepemimpinan, pergantian figur adalah hal yang wajar. Namun, yang tidak boleh berubah adalah aturan main yang telah disepakati bersama. Dengan berpegang teguh pada AD/ART, Alkhairaat tidak akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan pribadi, kelompok, atau situasi sesaat. Inilah yang menjaga organisasi tetap kokoh, terarah, dan tidak terpecah.
Ketiga, ketaatan kepada institusi lebih utama, karena itu siapapun yang memimpin Alkhairaat, ia terikat oleh AD/ART. Maka sikap yang benar adalah mengikuti sistem. Ini adalah bentuk kedewasaan berorganisasi: menempatkan aturan di atas kepentingan personal, dan menjaga marwah lembaga di atas segala-galanya.
Keempat, menjaga AD/ART berarti menjaga eksistensi Alkhairaat. Organisasi yang besar dan bertahan lama adalah organisasi yang konsisten terhadap nilai dan aturan dasarnya. Jika AD/ART diabaikan, maka identitas, arah, dan bahkan keberadaan organisasi bisa terancam. Karena itu, komitmen terhadap AD/ART adalah komitmen terhadap kelangsungan perjuangan Alkhairaat itu sendiri.
Sebagai penegasan, sikap yang harus dipegang oleh seluruh kader adalah: taat pada AD/ART, loyal pada institusi, dan konsisten dalam menjaga warisan Guru Tua. Dengan demikian, Alkhairaat akan tetap menjadi benteng keilmuan, persatuan, dan pengabdian bagi umat dan bangsa.
Abnaulkhairaat….
Jamaah Haul Rahimakumullah
Dinamika dan pasang surut hubungan Alkhairaat dengan pemerintah, baik dimasa kepemimpinan Guru Tua, maupun generasi sesudahnya, setidaknya dapat menjadi pelajaran penting bagi pemerintah mengenai kontribusi Guru Tua dan Alkhairaat terhadap bangsa dan negara. Namun patut direnungkan!!! Diatas semua pengorbanan dan kesuksesan itu ternyata diakhir hayatnya ketika wafat… tidak memiliki harta pribadi yang mungkin dapat diwariskan kepada anak cucunya,…tidak punya rekening pribadi yang mungkin ditabung dari gaji selama menjadi guru pada madrasah Alkhairaat selama 39 tahun. Guru Tua hanya mewariskan dan menitipkan masjid, madrasah Alkhairaat untuk umat Islam Sulawesi Tengah dan bangsa Indonesia.
Dari rangkaian pembacaan manaqib Guru Tua, dapat ditarik beberapa poin penting yang mencerminkan keagungan peran dan warisan beliau dalam sejarah keilmuan dan kebangsaan di Indonesia.
Pertama, transmisi keilmuan Guru Tua memiliki sanad yang kuat dan jelas, yang bersambung langsung dengan para ulama besar dari Hadramaut, khususnya para mufti dan qadhi. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan yang beliau ajarkan bukanlah hasil pemikiran yang terlepas dari tradisi, melainkan bagian dari mata rantai keilmuan Islam yang otoritatif. Melalui perjalanan intelektualnya, Guru Tua tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga mentransformasikannya secara kontekstual kepada masyarakat Nusantara. Dengan demikian, beliau menjadi jembatan penting antara khazanah keilmuan Timur Tengah dan realitas sosial keagamaan di Indonesia.
Kedua, sikap moderat (wasathiyah) dan nasionalisme Guru Tua menjadi teladan yang sangat relevan hingga saat ini. Dalam dakwahnya, beliau mengedepankan keseimbangan antara teks dan konteks, antara keteguhan prinsip dan keluwesan pendekatan. Moderasi beliau tampak dalam sikap toleransi, anti- ekstremisme, serta kemampuan merangkul perbedaan. Sementara itu, nasionalisme beliau tercermin dari komitmen terhadap persatuan bangsa, dukungan terhadap kemerdekaan, serta kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang beradab dan berilmu. Bagi beliau, agama dan cinta tanah air bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Ketiga, sistem pendidikan yang dibawa oleh Guru Tua merupakan perpaduan antara tradisi dan pembaruan. Beliau mengembangkan sistem pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter. Lembaga pendidikan yang beliau dirikan menjadi pusat kaderisasi ulama dan intelektual Muslim yang berintegritas. Metode pengajarannya menekankan kedisiplinan, adab, serta kesinambungan sanad keilmuan, sekaligus membuka ruang adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Sebagai penutup, manaqib Guru Tua bukan sekadar kisah keteladanan individu, melainkan cerminan sebuah tradisi keilmuan, sikap hidup, dan sistem pendidikan yang utuh. Warisan beliau menjadi inspirasi bagi generasi kini untuk terus menjaga kemurnian ilmu, mengamalkan Islam yang moderat, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan umat
Wallahul Musta’an