Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

Khutbah Jumat : Pentingnya Sanad dalam Belajar Ilmu Agama

Sanad Hadis dan Faktor-faktor Bervariasi Sanad - Majalah Nabawi

Pentingnya Sanad dalam Belajar Ilmu Agama

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumuillah Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesempatan kepada kita untuk terus beribadah kepadaNya. Mari wujudkan rasa syukur ini dengan senantiasa menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah melalui penguatan komitmen untuk senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Di antara perintah sekaligus kewajiban yang harus kita lakukan adalah adalah senantiasa menuntut ilmu sebagai modal hidup di dunia.

Rasulullah bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Namun, hadirin yang dirahmati Allah, Di era modern saat ini kita perlu mengingat bahwa, salah satu prinsip penting dalam tradisi keilmuan Islam adalah sanad. Sanad merupakan silsilah atau mata rantai keilmuan yang menghubungkan seorang murid dengan gurunya, kemudian bersambung kepada para ulama terdahulu hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Karena itu, para ulama sejak generasi awal Islam sangat memberi perhatian besar terhadap sanad. Sebuah hadits dikatakan shahih ataupun dhai’f juga didasarkan atas sanad atau siapa yang membawanya. Allah SWT berfirman:

   يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu,” (QS. Al-Hujurat: 6)

Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa penting untuk memastikan asal usul informasi agar kita tidak menjadi bagian dari kelompok yang memiliki informasi salah. Jika dalam urusan berita dunia saja kita diperintahkan untuk memeriksa sumbernya, maka tentu dalam urusan agama yang menentukan keselamatan dunia dan akhirat, tabayyun atau verifikasinya harus lebih ketat lagi.  Salah satu bentuk tabayyun dalam ilmu agama adalah memastikan sanad dan guru tempat kita belajar tersambung sampai dengan Rasulullah. Jika kita mengambil sanad guru dan keilmuan dari orang yang tidak jelas asal usul keilmuannya, maka kita bisa menjadi orang yang tersesat. Rasulullah SAW juga bersabda tentang pentingnya para guru dan ulama:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Buhkari)

Hadirin yang dimuliakan Allah, Abdullah bin al-Mubarak dalam Muqaddimah Shahih Muslim menegaskan bahwa sanad merupakan bagian agama. Ia menyebutkan dampak jika seseorang belajar ilmu agama tidak melalui guru atau sanad yang jelas. Ia berkata:

الإسنادُ مِنَ الدِّينِ، ولولا الإسناد لَقالَ مَن شاءَ ما شاء

Artinya: “Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, pasti siapa pun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki.”

Dengan kata lain, sanad berfungsi sebagai penjaga agama. Dengan sanad, orang tidak bisa sembarangan berbicara atas nama Islam. Ia harus menunjukkan dari mana ilmunya berasal, siapa gurunya, dan bagaimana jalur keilmuan yang ia tempuh. Tanpa sanad, setiap orang bisa mengklaim bahwa pendapatnya adalah ajaran Islam. Akibatnya, umat akan kesulitan membedakan antara ajaran yang benar dan pemikiran yang hanya bersumber dari hawa nafsu atau logika pribadi. Senada dengan penjelasan ini, Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, juga menegaskan pentingnya sanad dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama. Beliau memberi ibarat orang yang belajar agama tanpa sanad guru:

وَلاَ تُؤْتُوا الْبُيُوْتَ إِلَّا مِنْ أَبْوَابِهَا، فَمَنْ أَتَاهَا مِنْ غَيْرِ أَبْوَابِهَا سُمِّيَ سَارِقًا

Artinya: “Dan janganlah masuk rumah kecuali dari pintunya. Maka barang siapa masuk rumah dari jalan selain pintu, maka ia termasuk pencuri.”

Ibaratnya, rumah adalah ilmu, sedangkan pintu adalah guru dan sanad. Jika seseorang ingin mendapatkan ilmu agama yang benar, maka ia harus masuk melalui pintunya, yaitu belajar kepada guru yang memiliki sanad yang jelas. Sebaliknya, orang yang mengambil ilmu tanpa guru, tanpa bimbingan ulama, dan tanpa sanad yang sah, diibaratkan masuk rumah bukan melalui pintunya. Cara seperti ini berpotensi menimbulkan kesalahan pemahaman, bahkan penyimpangan dalam beragama. Karena itu, para ulama pesantren selalu menekankan bahwa ilmu tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dipelajari melalui talaqqi, yaitu belajar langsung kepada guru. Sebab guru tidak hanya mengajarkan isi kitab, tetapi juga menjelaskan maksudnya, meluruskan kesalahan pemahaman, dan menanamkan adab dalam menuntut ilmu. Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumuillah Terlebih di zaman media sosial saat ini, pesan para ulama tersebut menjadi semakin relevan. Banyak orang dapat berbicara tentang agama hanya dengan membaca terjemahan, melihat video singkat, atau mengutip satu dua dalil tanpa memahami konteksnya. Akibatnya, muncul sikap mudah menyalahkan, mudah mengkafirkan, dan mudah memvonis orang lain. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Jangan hanya melihat siapa yang paling lantang berbicara, tetapi lihatlah siapa gurunya, bagaimana sanad ilmunya, dan kepada siapa ia belajar. Sebab keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada isi ilmu itu sendiri, tetapi juga pada jalur keilmuan yang ditempuh untuk mendapatkannya. Sehingga saat ini perlu kita pegang prinsip: “Lihat siapa yang berbicara dan lihat apa yang dibicarakan”. Kita telah diingatkan Allah dalam firmannya surat Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumuillah Marilah kita menjaga tradisi mulia ini. Belajarlah agama melalui pintunya, yaitu para ulama dan guru yang memiliki sanad. Sebab ilmu yang bersanad bukan hanya menghasilkan kecerdasan, tetapi juga melahirkan ketawadukan, adab, dan keberkahan hidup. Amin

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.  اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ  عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung

Sumber: https://www.arina.id/khutbah/ar-lfpwb/khutbah-jumat–pentingnya-sanad-dalam-belajar-ilmu-agama

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top