Merenungi Hikmah Gerhana Pada Bulan Ramadhan
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ قَمَرًا مُّنِيْرًا وَجَعَلَ بِهَا الْاَرْضَ فِى اللَّيْلِ مُنَوَّرًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الْبَدْرِ الْكَمَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أُرْسِلَ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَنْوَارًا، أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ
Jamaah sholat Gerhana Bulan yang dimuliakan Allah SWT,
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah membentangkan langit tanpa tiang, menghiasinya dengan matahari dan bulan, serta menjadikannya tanda-tanda bagi orang-orang yang beriman. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman. Hadirin yang dimuliakan Allah, Pada malam Ramadhan yang penuh keberkahan ini, Allah memperlihatkan kepada kita satu peristiwa yang agung di langit yakni gerhana bulan. Sebagian kita mungkin melihatnya hanya sebagai fenomena alam, sebagai peristiwa astronomi yang bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Memang benar, secara ilmiah, gerhana terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari yang menyinari bulan terhalangi oleh bayangan bumi. Namun sebagai orang beriman, kita tidak berhenti pada penjelasan ilmiahnya saja. Kita harus melihat lebih dalam lagi dan mengambil hikmah pelajaran bagi kehidupan. Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: “Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya.” (QS Fushilat [41]: 37). Oleh karena itu, kita harus bertanya: apa pesan Allah di balik peristiwa ini? Apa hikmah yang bisa kita ambil, terlebih ketika gerhana itu terjadi di bulan suci Ramadhan? Jamaah yang dirahmati Allah, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita sikap yang benar ketika terjadi gerhana. Beliau bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا
Artinya: “Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian.” (HR Bukhari-Muslim). Maka ketika gerhana terjadi, Rasulullah SAW mengajak kita untuk sholat, berdoa, berzikir, beristighfar, dan bersedekah. Artinya, gerhana bukan untuk ditakuti secara tahayul, bukan untuk dikait-kaitkan dengan mitos. Gerhana adalah panggilan agar kita kembali menguatkan hubungan dengan Allah. Dan ketika panggilan itu datang di bulan Ramadhan, bulan yang sejak awal memang mengajak kita untuk bertakwa, maka pesannya menjadi semakin mendalam. Hadirin yang berbahagia, Bulan tidak memiliki cahaya sendiri. Bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari. Ketika cahaya itu terhalang oleh bayangan bumi, bulan pun menjadi gelap, bahkan tampak kemerahan. Betapa kuat simbol ini bagi kehidupan kita. Hati kita juga tidak memiliki cahaya sendiri. Cahaya iman adalah cahaya dari Allah. Iman bersinar ketika hati kita bersih, ketika jiwa dekat dengan Allah SWT. Tetapi ketika hati tertutup oleh bayangan dosa, oleh kelalaian, oleh kesombongan, oleh cinta dunia yang berlebihan, maka cahaya itu meredup. Bahkan bisa gelap. Ramadhan hadir untuk membersihkan bayangan-bayangan itu. Puasa melatih kita menahan diri. Menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menahan lisan dari dusta dan ghibah, menahan mata dari yang haram. Semua itu agar hati kembali jernih, agar cahaya iman kembali terang. Maka gerhana di bulan Ramadhan seakan menjadi cermin bagi diri kita. Jangan-jangan ada “gerhana” dalam hati kita. Jangan-jangan ada dosa yang menghalangi cahaya hidayah. Jangan-jangan kita tampak beribadah di luar, tetapi di dalam hati masih ada kegelapan yang belum kita bersihkan. Jamaah sekalian, Gerhana juga mengajarkan kepada kita tentang kefanaan dunia. Bulan yang biasanya terang dan indah, dalam sekejap bisa berubah menjadi gelap. Ini mengingatkan kita bahwa apa pun yang kita banggakan di dunia ini bisa berubah kapan saja. Jabatan bisa hilang. Harta bisa habis. Kesehatan bisa menurun. Kekuasaan bisa runtuh. Ramadhan melatih kita untuk tidak terlalu melekat pada dunia. Kita meninggalkan makan dan minum yang halal demi taat kepada Allah. Jika yang halal saja bisa kita tinggalkan karena perintah-Nya, apalagi yang haram. Jika kebutuhan duniawi saja bisa kita kendalikan, maka seharusnya kita lebih mudah mengendalikan hawa nafsu kita. Gerhana di bulan Ramadhan menjadi pengingat bahwa hidup ini sementara. Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia, tetapi lalai mempersiapkan akhirat. Hadirin yang dimuliakan Allah, Ada satu hal lagi yang sangat penting. Sholat gerhana dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Ada khutbah, ada nasihat, ada doa bersama. Ini menunjukkan bahwa menghadapi tanda-tanda kebesaran Allah tidak cukup secara individual, tetapi juga secara kolektif. Di bulan Ramadhan kita merasakan indahnya kebersamaan, sholat tarawih berjamaah, tadarus bersama, berbuka bersama, saling berbagi takjil dan sedekah. Gerhana di bulan ini semakin meneguhkan bahwa kita adalah satu umat. Kita sama-sama hamba yang lemah, yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Ketika langit berubah warna dan cahaya bulan meredup, kita diingatkan untuk merendahkan hati. Kita diingatkan untuk memperbanyak istighfar. Kita diingatkan untuk memperbaiki diri sebelum datang hari yang lebih besar dari sekadar gerhana, yaitu hari ketika matahari digulung dan bulan kehilangan cahayanya, hari kiamat yang pasti datang. Jamaah yang dirahmati Allah, Jika bulan yang gelap karena gerhana pada akhirnya akan kembali terang, maka itu adalah kabar gembira bagi kita. Hati yang gelap pun bisa kembali bercahaya. Dosa sebesar apa pun bisa diampuni jika kita sungguh-sungguh bertobat. Kesalahan selama bertahun-tahun bisa dihapus dengan tobat yang tulus dan amal yang istiqamah. Inilah makna terdalam dari Ramadhan dan gerhana yakni menjaga cahaya iman. Jangan biarkan ia padam. Jangan biarkan ia tertutup oleh bayangan dosa. Rawatlah ia dengan sholat, dengan Al-Qur’an, dengan sedekah, dengan akhlak yang baik, dengan kejujuran, dan dengan ketulusan dalam setiap amal. Semoga setiap gerhana yang kita saksikan tidak hanya menjadi tontonan mata, tetapi menjadi sentuhan bagi hati kita. Semoga Ramadhan yang kita jalani benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, lebih rendah hati, lebih peduli kepada sesama, dan lebih siap menghadap Allah SWT. Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah, semoga Allah tidak menggelapkan hati kita setelah kita diberi petunjuk, dan semoga Allah menjadikan hati kita seterang bulan yang kembali bersinar setelah keluar dari bayangan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung