hacklink hack forum hacklink film izle hacklink mostbetสล็อตสล็อตscopri di piùromabetcasino siteleriroyalbet girişmostbetkavbetKingroyaljojobetjojobetjojobetjojobetjojobetjojobetzlibraryjojobetMeritking GirişHiltonbetHiltonbetgokken zonder cruksPadişahbetizmir escortdeneme bonusu veren sitelerdeneme bonusu veren sitelervaycasinoholiganbetTuzla Escortholiganbetdeneme bonusu veren sitelerdeneme bonusu veren sitelerdeneme bonusu veren sitelerkingroyalpornholiganbet girişholiganbetjojobetjojobetdeneme bonusu veren yeni sitelercasino siteleribahis siteleriTürk ifşaholiganbet

Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Hari Raya, Kita, dan Orang Tua

Hari Raya, Kita, dan Orang Tua

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Jamaah sholat Idul Fitri rahimakumullah, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memanjangkan usia kita, menguatkan langkah kita, dan mempertemukan kita dengan hari yang fitri nan mulia. Hari yang suci, hari kemenangan sejati setelah sebulan penuh kita ditempa oleh Ramadhan yang selalu kita rindui.  Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, insan paling mulia yang mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi hamba yang taat dan anak yang berbakti kepada orang tua. Marilah di hari yang agung ini kita perkuat kembali ketakwaan kita kepada Ilahi Rabbi. Ketakwaan bukan hanya ucapan lisan di mulut ini, tetapi kesadaran yang hidup dalam hati. Ketakwaan adalah rasa diawasi oleh Allah di setiap saat, rasa takut berbuat dosa dan maksiat, meski tak ada manusia yang melihat, dan rasa rindu kepada Allah untuk selalu mendekat. Ramadhan telah melatih kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Kita bangun sebelum fajar tiba, kita menahan diri sepanjang hari dan dari berbagai suasana, kita menundukkan hawa nafsu yang ada dalam jiwa, kita memperbanyak ibadah dan berserah diri kepada-Nya.

Semua itu bukanlah sekadar rutinitas, melainkan proses pembentukan jiwa agar kita menjadi pribadi yang bertakwa dan berkualitas. Lebih takut kepada Allah yang Maha tak terbatas dan lebih lembut kepada sesama tanpa memandang suku, agama, dan ras. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” Lalu pertanyaan pun muncul, setelah Ramadhan berlalu, apakah ketakwaan itu akan tetap kita jaga? Ataukah ia akan memudar seiring dengan hilangnya suasana?

اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah sholat Idul Fitri rahimakumullah, Hakikat Idul Fitri adalah kembali. Kembali kepada fitrah insani. Kembali kepada kesucian yang hakiki. Selama Ramadhan, kita membersihkan diri melalui puasa. Kita menundukkan hawa nafsu yang selalu membara, menahan lapar dan dahaga, membasahi lisan dengan zikir dan doa, membasahi mata dengan air mata. Kita memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah SWT. Kita mengetuk pintu langit dengan doa-doa panjang di sepertiga malam mulia. Kita sujud lebih lama, kita memohon lebih sungguh-sungguh kepada-Nya. Itulah kesucian vertical, kesucian antara hamba dengan Rabb-nya. Namun, hadirin sekalian, Kesucian itu belumlah sempurna jika hanya berhenti di langit. Ia harus turun ke bumi menjelma dalam sikap, dalam tutur kata, dalam perilaku kepada sesama manusia. Apa artinya kita rajin bersujud kepada Allah, tetapi masih menyimpan luka di hati orang lain? Apa maknanya kita khusyuk membaca Al-Qur’an, tetapi lisan kita masih tajam melukai perasaan? Idul Fitri mengajarkan bahwa setelah kita membersihkan hubungan kepada Allah, kita wajib membersihkan hubungan kepada manusia. Dan manusia yang paling berhak atas kelembutan hati kita, atas maaf kita, atas bakti kita, adalah orang tua. Hadirin yang dirahmati Allah, Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 23, Allah memerintahkan agar kita tidak mengatakan “ah” kepada orang tua, tidak membentak mereka, dan berkata dengan perkataan yang mulia. Perintah ini datang setelah perintah untuk menyembah Allah. Seakan Allah ingin menegaskan, siapa yang ingin dicintai Allah, maka muliakanlah orang tuanya.

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Renungkanlah… sejak kita belum mampu berjalan, siapa yang menggendong kita? Sejak kita belum mampu berbicara, siapa yang memahami tangis kita? Ketika kita sakit di tengah malam, siapa yang paling dulu terjaga? Ketika kita jatuh dan gagal, siapa yang tetap berdiri di belakang kita tanpa syarat apa-apa? Ibu kita mungkin tak pernah mengeluh tentang lelahnya. Ayah kita mungkin tak pernah menceritakan betapa berat beban yang dipikulnya. Mereka menyembunyikan letihnya agar kita bisa tersenyum bahagia. Mereka menahan air mata agar kita bisa merasa aman di setiap masa. Mereka berpura-pura sehat agar kita bisa hidup bahagia. Jangan kita berpura-pura tidak tahu saat mereka dalam kondisi sengsara.  Dan hari ini, di hari raya ini, kita pulang. Kita datang dengan pakaian terbaik, dengan senyum tanda rasa senang. Tetapi sesungguhnya yang mereka rindukan bukanlah itu semua. Bukan pula bingkisan yang kita bawa. Yang mereka rindukan adalah kehadiran kita. Duduk dekat mereka. Menggenggam tangan mereka yang mulai keriput dimakan usia. Menatap wajah yang kini tak lagi sekuat dulu kala. Betapa banyak orang tua yang menunggu di depan pintu, memandang jalan, berharap anaknya datang. Mereka mungkin tidak mengucapkan rindu setiap hari, tetapi setiap doa mereka adalah bukti cinta yang tak pernah padam dalam hati. Nama kita hadir dalam setiap sujud mereka di siang dan di malam hari.

اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah sholat Idul Fitri rahimakumullah, Idul Fitri adalah saat yang paling indah dan tepat untuk bersimpuh dan memohon maaf kepada orang tua. Bersimpuh bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar kita banyak dosanya. Sadar bahwa mungkin selama ini kita sering meninggikan suara. Sadar bahwa mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa menyempatkan waktu untuk sekadar bertanya, “Ayah, Ibu, bagaimana kabarnya?” Ingatlah, Rasulullah bersabda bahwa merawat dan memberi perhatian kepada orang tua adalah sama dengan berjihad di jalan-Nya:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِى الْجِهَادِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحَىٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Artinya: “Seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah SAW bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Oleh karena itu, Mari… mintalah maaf dengan sepenuh hati. Bukan hanya sekadar formalitas diri. Biarkan air mata mengalir jika memang hati tergerak. Karena air mata seorang anak di hadapan orang tuanya adalah tanda bahwa hatinya masih lembut dengan permintaan maaf yang banyak. Kita harus sadari, doa orang tua setelah memaafkan adalah cahaya yang menerangi jalan dalam kehidupan. Bagi yang masih memiliki orang tua, jangan tunda untuk membahagiakan mereka. Jangan menunggu sukses dulu, jangan menunggu kaya dulu, jangan menunggu sempurna dulu. Senyum kita hari ini, perhatian kita hari ini, waktu kita hari ini, jauh lebih berharga daripada janji-janji besar yang belum tentu kita tepati. Dan bagi saudara-saudara kita yang orang tuanya telah lebih dahulu kembali kepada Allah, jangan merasa sendiri. Cinta tidak pernah terputus oleh kematian. Doa kita tetap sampai ke tujuan. Sedekah atas nama mereka menjadi cahaya di alam kubur. Amal saleh kita menjadi hadiah yang tak pernah habis dimakan umur. Mari ziarahi kubur mereka. Setiap saat mari kita berdoa:

  اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

“Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil,”. Dengan doa ini sesungguhnya kita sedang mengirimkan cinta yang paling tulus kepada mereka.

اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Hadirin yang dimuliakan Allah, Kemenangan Idul Fitri bukan hanya tentang berhasil menahan lapar dan dahaga. Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil menundukkan ego, meluluhkan kesombongan, dan merendahkan diri di hadapan orang tua. Ketika kesucian vertikal yang kita bangun selama Ramadhan benar-benar terwujud dalam kesucian horizontal kepada sesama. Jangan sampai takbir berkumandang merdu di lisan kita, tetapi hati kita masih keras kepada ayah dan bunda. Jangan sampai tangan kita sibuk bersalaman dengan banyak orang, tetapi lupa memeluk orang tua dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mari jadikan Idul Fitri ini sebagai titik balik kehidupan kita. Kita perbaiki sikap, kita jaga tutur kata, kita rawat hubungan, kita bahagiakan orang tua selagi mereka masih ada di hadapan kita. Karena suatu hari nanti, ketika kursi itu kosong dan suara itu tak lagi terdengar, yang tersisa hanyalah kenangan dan doa. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang saleh dan salehah. Anak-anak yang tidak hanya pandai beribadah, tetapi juga pandai berbakti. Semoga ridha orang tua mengantarkan kita kepada ridha Allah dan surga-Nya.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ اَلْحَمْدُ

لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sumber:

H. Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung

https://www.arina.id/khutbah/ar-veyrf/khutbah-idul-fitri-1447-h–hari-raya–kita–dan-orang-tua

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top