3 Cara Menyikapi Komentar di Medsos
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ، فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesempatan berkumpul di rumah-Nya pada hari yang mulia ini. Penting dan wajib pula bagi kita untuk terus senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah agar kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan arah yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib juga mengajak diri pribadi dan jamaah sekalian untuk menyikapi fenomena interaksi sosial manusia modern yang saat ini sebagian besar sudah dilakukan melalui teknologi seperti media sosial. Saat ini kita hidup di dua dunia yakni dunia nyata dan dunia maya. Kita harus bisa menjadi pribadi yang tahu diri dalam bersikap khususnya saat berkomentar, menghadapi komentar dan perbedaan pendapat di media sosial. Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Media sosial telah menjadi ruang publik baru yang sering diwarnai banjir informasi, komentar tanpa etika, serta sikap merasa paling benar sendiri. Banyak orang mudah berbicara, menilai, menuduh bahkan mencela tanpa mempertimbangkan adab dan dampaknya. Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan mengekspresikan pendapat. Ruang digital yang awalnya diharapkan menjadi sarana berbagi kebaikan, dalam praktiknya sering menghadirkan problem etika dan krisis kedewasaan serta tata krama. Dengan mudah kita jumpai banyak orang tak memiliki etika kepada orang yang lebih tua. Bahkan seorang ahli ataupun ulama dikomentari oleh orang awam yang tak menguasai ilmu agama dengan kalimat-kalimat merendahkan serta jauh dari adab. Untuk menghadapi ini semua, Al-Qur’an telah memberi panduan yang tertuang dalam QS. Al-A‘raf ayat 198-199 yakni:
وَاِنْ تَدْعُوْهُمْ اِلَى الْهُدٰى لَا يَسْمَعُوْاۗ وَتَرٰىهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ ١٩٨ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩
Artinya: “Jika kamu menyeru mereka untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Kamu mengira mereka memperhatikanmu, padahal mereka tidak melihat. Jadilah pemaaf, perintahlah pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” Dua ayat ini membentuk satu rangkaian pesan tentang komunikasi, dakwah, dan pengendalian diri, termasuk dalam menghadapi komentar di media sosial. Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Setidaknya ada tiga sikap utama yang dapat dijadikan pedoman kita dalam menghadapi komentar-komentar di media sosial. Pertama, mengedepankan sikap pemaaf dan kesadaran batas diri. Perintah khudzil ‘afwa (jadilah pemaaf) mengingatkan kita agar kita tidak reaktif terhadap setiap komentar yang menyakitkan. Di media sosial, tidak semua komentar lahir dari niat baik. Banyak yang sekadar meluapkan emosi, prasangka, atau bahkan kebencian. Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa ada orang yang tampak memperhatikan, tetapi sejatinya tidak benar-benar mendengar dan memahami. Kesadaran ini membantu kita untuk tidak memaksakan diri menjelaskan panjang lebar kepada orang yang memang menutup hati dan pikirannya. Memaafkan dalam konteks ini berarti memilih ketenangan daripada konflik, serta menyadari batas tanggung jawab diri sendiri. Kedua, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik. Bagian ayat wa’mur bil ‘urfi (perintahlah pada yang makruf) menegaskan bahwa ruang publik seharusnya dipenuhi dengan nilai-nilai kebaikan. Jika harus merespons komentar, maka respons tersebut hendaknya bersifat mendidik, santun, dan tidak merendahkan pihak lain. Media sosial dapat menjadi ladang amal jika digunakan untuk menyebarkan pesan yang menenangkan, meluruskan dengan hikmah, dan memberi contoh akhlak yang baik. Namun, ayat 198 kembali mengingatkan bahwa hasil dari nasihat bukanlah urusan kita sepenuhnya. Tugas manusia adalah menyampaikan, bukan memastikan semua orang menerima. Nabi Muhammad SAW bersabda, Dari Abdullah bin Amr ra:
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Artinya: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR Bukhari)
Ketiga, berpaling dari perdebatan yang tidak berguna. Perintah wa a‘rid ‘anil jahilin (berpalinglah dari orang-orang bodoh) mengajarkan keberanian untuk tidak selalu terlibat. Tidak semua komentar layak ditanggapi, terutama komentar yang provokatif, menghina, atau berulang-ulang tanpa substansi. Diam dan tidak menanggapi komentar di media sosial sering menjadi cara terbaik untuk mendapatkan kemenangan dan ketenangan. Dalam banyak kasus, memilih diam dan berpaling justru memutus rantai keributan. QS. Al-A‘raf ayat 198 menegaskan bahwa ada pihak yang secara lahiriah tampak berinteraksi, tetapi sejatinya tidak ingin mencari kebenaran. Di media sosial, banyak motif tersembunyi saat sebuah akun melakukan interaksi. Bisa bermotif provokasi, mencari popularitas, ataupun motif mencari keuntungan materi. Menghindari perdebatan dengan kelompok seperti ini bukan bentuk kelemahan, melainkan tanda kedewasaan dan kebijaksanaan.
Oleh karena itu dalam menyikapi ini semua, Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Penting bagi kita semua untuk melakukan penguatan literasi digital di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berekspresi di media sosial. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai atau aplikasi, tetapi mencakup kecakapan memahami, menilai, dan menyikapi informasi secara kritis dan beretika. Tanpa literasi yang memadai, seseorang mudah terjebak pada hoaks, provokasi, serta banjir informasi yang menyesatkan, lalu ikut menyebarkannya tanpa sadar. Kondisi ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga berpotensi merusak harmoni sosial. Selain itu, literasi digital juga berperan penting dalam membentuk akhlak dan kedewasaan bermedia. Dengan literasi yang kuat, seseorang akan lebih bijak dalam berkomentar, menghargai perbedaan pendapat, serta memahami batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral. Penguatan literasi digital membantu kita menyadari bahwa setiap tulisan dan unggahan memiliki dampak, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Oleh karena itu, literasi digital adalah bagian dari ikhtiar menjaga adab, menebarkan kebaikan, dan menjadikan media sosial sebagai sarana yang membawa manfaat, bukan sumber perpecahan. Menutup khutbah ini kita perlu renungkan ayat Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Sumber:
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
https://www.arina.id/khutbah/ar-j9iot/khutbah-jumat–3-cara-menyikapi-komentar-di-medsos