Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

RIWAYAT SINGKAT AL HABIB ASSAYYED IDRUS BIN SALIM ALJUFRIE PENDIRI ALKHAIRAAT PALU

RIWAYAT SINGKAT
AL HABIB ASSAYYED IDRUS BIN SALIM ALJUFRIE
PENDIRI ALKHAIRAAT PALU
Oleh Sayyid Saqqaf bin Muhammad bin Idrus Aljufri
Penerjemah Sayyid Ali bin Muhammad bin Idrus Aljufri

Kehidupannya adalah kehidupan ilmu, pendidikan dan dakwah di jalan Allah swt. Beliaulah pendiri madrasah Alkhairaat di kepulauan Timur Indonesia. Keturunan bilau adalah ad-da’I (pendakwah) atau juru dakwah. Nama lengkapnya adalah AsSayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi AlKhawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah saw. Kelahirannya hari senin Sya’ban 1309 H di Taris Hadramaut. Beliau berasal dari keluarga yang berilmu dan mempunyai sifat kasih sayang dan dari keluarga yang baik, bertaqwa dan beramal tiada dari kalangan keluarga mereka melainkan mereka itu adalah ulama yang muslih (pembaharu) dan da’i. Ayahnya Al-Allamah Al-Habib Salim seorang ilmuwan dan tokoh yang mempunyai banyak karangan dan tulisan dari berbagai bidang ilmu, dan ia memegang jabatan sebagai Qadhi dan mufti di negerinya. Adapun kakeknya Al-Habib Alwi adalah seorang imam dan ilmuwan yang masyhur dan termasuk lima Ahli fiqh Hadramaut yang dikumpulkan fatwa-fatwa mereka dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan As-Sayyed Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur. Setiap fakta-fakta dalam kitab tersebut diberi tanda dengan huruf jim. Kemudian kakeknya yang kedua Al-Habib Saqqaf diantara ulama yang terkenal dari dua faqih dan memegang jabatan Qadhi di Hadramaut. Al-Habib Idrus belajar ilmu agama dan bahasa bermula dari ayahnya AlAllamah Habib Salim sebagaimana Ulama-ulama yang lain yang berada di Hadramaut. Beliau hidup dan besar dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan senantiasa menlazimi para ulama serta mengambil dan menimbah ilmu dari sumber yang murni, maka jadilah beliau pakar dalam ilmu-ilmu agama dan bahasa sehingga beliau dilantik menjadi Qadhi dan Mufti di Taris negerinya menggantikan ayahnya Al-Habib Salim. Perjalanannya ke Indonesia yang pertama kali ketika beliau berumur kurang lebih 17 tahun dari perjalanannya yang kedua pada tahun 1922 yang demikian itu setelah perjuangan politiknya untuk membebaskan negaranya dari penjajahan Inggris.

Beliau bersama sahabatnya Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As-Saqqaf, keduanya merupakan tokoh agama dan wakil dari para ulama lain. Yang mempelopori perjuangan kemerdekaan, mereka membenci penjajah dan konco-konconya serta keadaan yang berkembang di Hadramaut khususnya wilayah Arab sebelah Utara secara keseluruhan. Keduanya bersepakat untuk menyalakan perlawanan terhadap penjajah dan konco-konconya dan mereka adalah orang yang pertama kali menghidupkan api tersebut. Mereka berpendapat bahwa berhubungan dengan Negara-negara Arab yang merdeka dan dunia luar adalah sesuatu yang amat penting untuk merubah keadaan di dalam negeri sekaligus memerdekakan Negara secara total. Maka tugas politik yang sangat berbahaya itu di serahkan kepada Habib Idrus. Beliau memutuskan untuk keluar melalui pelabuhan Aden selanjutnya ke Yaman dan Mesir dengan tujuan untuk menjelaskan keadaan negerinya kepada masyarakat Arab dan dunia secara keseluruhan. Beliau mengetahui bahwa perbuatannya itu membahayakan jiwanya karena inteligen Negara dan mata-mata pemerintahan Inggris terus memperhatikan gerak-geriknya, akan tetapi perjalanan itu harus dilakukan. Setelah segala perlengkapan dan rancangan disiapkan dengan tepat dan matang serta penuh kehatihatian tersebut hampir membuahkan hasil jika tidak disebabkan oleh penghianat yang mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi membocorkan rahasianya. Setelah beliau sampai di bandara Aden, tiba-tiba beliau di tangkap kemudian dokumen-dokumen yang ada padanya dirampas serta mendapat larangan dari pemerintah Inggris untuk tidak keluar dari bandara Aden dengan tujuan ke Negeri Arab akan tetapi diizinkan untuk kembali ke Hadramaut atau pergi ke Asia Tenggara. Maka beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia.

Perjuangan dan jihadnya di perantauan beliau masuk ke Indonesia untuk kedua kalinya pada tahun 1922 dan menetap di Pekalongan untuk beberapa waktu lamanya dan menikah dengan pasangan hidupnya dan bersama menikmati pahit manisnya kehidupan. Ketika beliau berada di pekalongan beliau berdagang kain batik tetapi tidak mendapat kemajuan karena cintanya kepada dunia belajar dan mengajar melebihi dari segala-galanya. Kemudian beliau meninggalkan perdagangan dan beliau pindah ke Solo Jateng, beliau di lantik sebagai Guru dan Kepala Sekolah di Madrasah Rabithah Al-Alawiyyah. Setelah beberapa tahun beliau pindah ke Jombang di Jawa Timur dan tinggal beberapa lama disana. Kemudian beliau memulai perjalanannya ke Tumur Indonesia untuk memberi petunjuk dan berdakwah di jalan Allah hingga sampailah beliau di Palu yang kata itu bernama “Celebes” pada masa penjajahan Belanda. Setelah beliau masuk di negeri tersebut terlihat olehnya gerakan misionaris Kristen yang mendapat tempat dan pengikut yang banyak dari penduduk muslim yang awam. Karena kurang hidupnya dakwah islamiyah di negeri itu bahkan hampir-hampir tidak terdapatnya pendakwah Islam yang mengimbangi gerakan misionaris yang menentang Islam. Al-Ustadz memikul tanggung jawab ini kepundaknya untuk masuk dalam peperangan ini dan melaksanakan dakwah Islamiyah dan menentang musuh-musuh agama yang suci dan misionaris. Yang menyebabkan beliau terjun ke dalam peperangan dan memimpin dakwah yaitu karena semangat Islam dan perasaan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim yang pertama dan kedua sebagai seorang yang alim. Al-Ustadz berpendapat bahwa sebaik-baik cara untuk menentang gerakan misionaris dengan gerakan Islamiyah yang serupa berdasarkan pada firman Allah : (“serulah ke jalan tuhanmu dengan kebijaksanaan dan peringatan yang baik serta berdialog (berdebatlah) dengan cara yang baik”) dan juga dari sabda Nabi Saw : (“Mudahkanlah dan jangan menyusahkan, berilah kabar gembira dan jangan menakutnakuti”).

Yang demikian itu dengan cara penyebaran ilmu dan budaya islam dengan alan yang mudah dan cara yang bijak melalui pembukaan sekolah dan majlis Ta’lim untuk menghimpun anak-anak Islam. Bangunan sekolah yang pertama adalah di bangun dari biaya beliau sendiri di kota Palu yang sekarang menjadi Ibukota Sulteng salah satu kepulauan yang terletak di Timur Indonesia yang merupakan sekolah Islam yang pertama di Negeri Palu yang kemudian berkembang menjadi cabang-cabang mencapai ratusan madrasah tersebar di kota-kota dan kampong-kampung di bagian Timur kepulauan Indonesia yang diberi nama “ALKHAIRAAT”, dengan harapan optimis dan keberkatan dari nama tersebut yang banyak kali di sebut dalam Al-Qur’an dan secara resmi madrasah tersebut di buka pada tanggal 14 Muharram 1349 H bertepatan dengan 11 Juni 1930. dan pada peresmian itu di hadiri oleh para pemuka-pemuka Ara yang tinggal di Palu dan sebagian petinggi-petinggi negeri. Palu sebelum didirikannya Alkhairaat Adapun kepulauan Sulawesi terutama bagian tengah dan serta kota-kota “Palu” khususnya adalah tempat yang subur bagi misionaris dan pusat gerakannya (gerakan salibi) dengan beberapa sebab diantaranya tempat yang strategis di antara pulau-pulau lain. Di tempat ini para misionaris melaksanakan misi-misi yang menarik penduduk memeluk Kristen dengan cara memberi apa saja. Dan mereka sangat lihai (rakus) dan mengambil kesempatan dalam perayaan (hari-hari tertentu) dan perkumpulan-perkumpulan umum terutama setiap hari senin dan jum’at di mana pada hari tersebut sudah menjadi kebiasaan penduduk berkumpul untuk memasarkan barang-barang dagangan dan hasil-hasil pertanian dan mereka berdatangan ke pasar baik dari jauh maupun dari dekat. Pada kesempatan dan musim-musim seperti inilah para pendeta mengambil kesempatan untuk menyampaikan khutbah keagamaan mereka dengan tujuan untuk menarik penduduk ke dalam agama Kristen.

Adapun pemerintah penjajah Belanda pada waktu itu sudah pasti memberi dorongan dan bantuan serta segala kemudahan. Syair : “Bagaikan seekor burung yang bebas engkau dapat terbang, bertelur-bertelur dan bersiul-siul, maka patuklah (lakukanlah) sesuka hatimu apa yang ingin engkau patuk (lakukan)”. Semua itu terjadi tanpa ada usaha dakwah Islamiyah dan ada yang mencoba membelanya. Perkara itu memberi kesan mendalam pada jiwa ustadz kita Almujahidin sehingga ia mengambil beban tanggung jawab tersebut di pundaknya untuk mengemban risalah penyebaran dakwah Islamiyah dan membelanya meskipun taruhannya mahal. Hal inilah yang menyebabkan beliau menetap di negeri ini dan menjadikan sebagai pusat pengembangan dakwah islam. Dan Allah memberinya taufiq dan melampangkan dadanya untuk mendirikan pusat pendidikan keagamaan yang merupakan penyebaran dakwah Islam untuk memberi pengetahuan kepada orang-orang islam dengan pengetahuan islam yang benar, dengan maksud untuk menghalangi penyebaran agama Kristen. Beliau berusaha dengan segenap tenaga dan memfokuskan seluruh perhatiannya untuk memberi pengetahuan pada generasi muda dan mempersiapkan mereka untuk memikul tanggung jawab penyebaran Islam dan agar mereka siap sedia dan cepat tanggap terhadap tanggung jawab mereka pada agama dan umat. Yang demikian itu dapat dilakukan melalui pendidikan yang bersistem seperti madarasah alkhairaat ISLAMIAYAH. Para pelajar khususnya mendapat pendidikan agama dan bahasa serta ditambah dengan ilmu pengetahuan lain. Untuk mengangkat kesadaran beragama di kalangan umat Islam, diadakan pengajian-pengajian dan muhadharat-muhadharat di antara Maghrib dan Isya di masjid-masjid yang dihadiri oleh para pelajar Alkhairaat dan masyarakat Islam. Adapaun rumah ustadz – semoga Allah merahmatinya – merupakan markas Islam pertama di negeri ini seperti “Daarul Arqam” tempat yang melahirkan kelompok pilihan dari pembesar-pembesar islam terdahulu di bawah kepemimpinan Muhammad bin Abdillah SAW.

Dari rumah tersebut bertearan pemuda-pemuda yang benar pada janji mereka terhadap Allah dan ada di antara mereka yang sudah pergi dan ada yang sedang menunggu dan tidak menukar dan menambah apa yang mereka terima. Alustadz dengan usaha sendiri berjalan dengan membawah risalah yang agung yang di warisi dari ayah dan kakeknya hingga sampai pada datuknya yang mulia SAW. Demikianlah keadaan orang yang memikul perkara-perkara yang besar. Berkata ahli syair : “jauh dari sahabat di setiap negeri # apabila banyak permintaan maka sedikit bantuan”. Al-ustadz senantiasa melakukan perjuangan dengan semangat dalam bimbingan iman, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah dan keyakinan dirinya tanpa menghiraukan hambatan dan rintangan serta cobaan yang dihadapinya dari kalangan manusia-manusia yang berjiwa rendah, karena Sayyidina Muhammad SAW yang menjadi panutannya. Al-ustadz telah mengisyaratkan berbagai kejadian dalam syairnya yang panjang diantaranya : v Ketahuilah manusia itu memiliki berbagai sifat dan tabiat, perhatikanlah yang meninggalkan Alkhairaat itu adalah orang yang hina lagi keji. v Mereka telah meminumnya dari padanya susu, setelah mereka mendapat apa yang diinginkannya mereka memusuhinya. v Celakalah mereka itu yang menukar khittah mereka, dan mereka telah berbuat melampaui batas dengan menukar agama mereka dengan dunia. v Kemudian sesudah itu mereka mengatakan cinta mereka, sesungguhnya tidak, apa yang mereka katakana itu dusta semata. v Mereka itu berjumlah sembilan orang jika engkau mau akan aku sebutkan, tetapi bagiku sama saja jika mereka itu datang atau pergi. v Kesemuanya itu tidak mengherankan karena sejarah telah memberi tahu bahwa orang yang jahat itu jika dimuliakan mereka akan membesarkan diri. v Adapun orang-orang mulia jika mereka dimuliakan mereka tetap menunjukkan kesetiaan da kecintaan yang dapat disaksikan dalam keadaan mereka. v Sesungguhnya kebaikan itu ada orang-orangnya yang terpilih, demikian juga kejahatan ada orang-orang yang membelanya. Ket : Setelah beliau memberi nasehat dan arahan agar abnaul khairaat berpegang dengannya, beliau melanjutkan ungkapannya : v Itulah nasehat yang aku berikan dan sampaikan secara tersusun untuk abnaul khairaat di Palu. v Dan selain mereka, kepada murid-murid cabang Alkhairaat bahwa ilmu pengetahuan itu mempunyai nilai yang baik. v Semoga Allah menjaga dan melindungi mereka terutama kepada anak-anak dan keluarga. v Juga kepada keluarga terdekat dan ahli ilmu keseluruhan serta kepada mereka yang berharap sesuatu kepada abnaul khairaat. v Wahai yang Maha Pengampun dosa, siapakah yang akan menghilangkan kesusahan. Wahai yang Maha Penerima taubat telah menyempit keadaanku. v Jadilah engkau penolongku dari dunia dan bahayanya, pertolongan dalam perjalanan pergi dan balikku.

Palu setelah berdirinya Madrasah Alkhairaat Pada hari ini 69 tahun yang lalu berdirinya Madrasah Alkhairaat yang berpusat di Palu setelah Ustadz kita Al-mijahid bersama abnaul khairaat mengarungi pahit getirnya perjuangan maka kota palu menjadi markas dengan madrasah-madrasah dan universitasnya sebagai mercusuar Islam. Maka dari sinilah tersebar kelompok-kelompok dakwah Islamiyah yang dipimpin oleh orang-orang yang benar akan janjinya kepada Allah dan ada di antara mereka yang telah pergi, adapula yang masih menunggu dengan tidak menukar atau menambah apa yang mereka terima. Dan Al-ustadz telah mengisyaratkan hal tersebut di dalam madah-madahnya yang menyentuh tentang Sejarah Alkhairaat, di antaranya : v Segala puji bagi Allah karena Alkhairaat telah marak dan dalam taman-tamannya terdapat singa dan anak-anaknya. v Wahai sekalian penduduk Palu! Alkhairaat itu ibu kamu yang mengajak orangorang yang mempunyai tujuan dan kemauan. v Alkhairaat telah menjadikan bumimu dipenuhi ilmu, banyak orang dari berbagai penjuru datang untuk menuntut ilmu. v Di mana sebelumnya tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Sekarang ia telah terkenal melebihi negeri-negeri yang lain. Pada hari ini setelah berlalu 59 tahun berdirinya, Madrasah Alkhairaat telah mencapai jumlah 1250 cabang yang tersebar di seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara serta pulau Kalimantan, Kepulauan Maluku dan Irian Jaya. Kita menyaksikan sekolah ini berkembang dengan pesat menutup segala kekosongan, berdiri sebagai pembela yang kokoh menghadapi penyebaran budaya asing yang meruntuhkan moralitas bangsa dari kalangan salibis, komunis dan zionis. Di pundaknya Madrasah Alkhairaat memikul tanggung jawab penyebaran dakwa Islamiyah dan membelanya serta membekali (umat) dengan pengetahuan Islam dan menjaga warisan-warisan serta menjaga penyebaran bahasanya. Adapun sebab utama kejayaan misi Alkhairaat semuanya kembali kepada keluwesan, kesabaran, ketabahan dan keikhlasan dari pendiri Alkhairaat yang dirahmati Allah. Beliau telah menunjukan teladan yang tinggi dalam pengorbanan, dan pengabdian sehingga melupakan diri sendiri serta berusaha payah dalam menyebarkan Islam dan bahasanya di seluruh pelosok negeri. Yang perlu di ingat bahwa pekerjaan yang besar ini bukanlah hasil kerja dari penghimpunan/yayasan tetapi dia lahir dan wujud karena usaha keras dan kemandirian seorang tokoh Al-Habib Idrus Bin Salim Al jufri ini merupakan perkara yang sangat mengherankan dan menakjubkan sehingga menjadi pertanyaan banyak orang : bagaimana dengan kesendiriannya beliau sanggup untuk menghakikatkan (mewujudkan) pekerjaan ini dengan waktu (jangka masa) yang sangatsingkat dengan kurangnya fasilitas. Tetapi kita tidak perlu heran dan takjub dengan orang seperti ini karena Dia adalah seorang yang menyerupai 1000 orang. Inilah cirri khas dari beliau yang dapat merubah wajah sejarah, dapat mengubah keajaiban menjadi kenyataan, sekalipun hal ini suatu keajaiban tetapi telah menjadi kenyataan dan sejarah. Semua ini terjadi karena perjuangan panjang dengan kesabaran yang tak pernah putus, kegigihan yang terus menerus yang dimiliki oleh Al-ustadz yang dirahmati Allah selama 40 tahun, dengan mengorbankan jiwa dan harta pada jalan kebenaran dengan tujuan yang mulia yaitu menegakkan kalimat Allah yang mulia (tinggi). Berapa banyak ustadz telah mempertaruhkan hidupnya dalam mengarungi pelayaran perjalanan dan ekspedisinya dengan berbagai macam sarana di kepulauankepulauan yang jauh berada di sekitar kepulauan Sulawesi dan Muluku untuk menyiarkan pengetahuan Islam. Beliau berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain menggunakan parahu sampan dengan bermacam resiko berupa tantangan dan bahaya yang selalu mengancam di setiap saat. Akan tetapi Ustadz yang dirahmati Allah selalu merasakan kenikmatan di antara pertaruhan jiwanya dan beliau rela memberikan apa saja meski jiwanya sekalipun. Beliau tabah dalam mengarungi pelayaran itu sampai berbulan-bulan lamanya.

Dan kadang-kadang perjalanan itu di tempuh dengan berjalan kaki jika tidak mendapatkan alat-alat transportasi. Akhir kata, semua perjuangan beliau itu terus dilakukannya hingga akhirnya hayat dengan tetap mengajar dan berdakwah di jalan Allah dengan keadaan diri dan hartanya walaupun harus mengorbankan semua yang berharga yang ada pada dirinya, di salah satu bagian dunia Islam. Beliau berpulang ke rahmatullah pada tanggal 12 Syawal 1389 H bertepatan dengan tahun 1969 M, setelah beliau memberikan bagi umat Islam suatu pelayanan yang luar biasa demi pembelaannya terhadap Islam dengan pembelaan yang mulia. Maka berhembuslah rohnya yang suci dan seolah-olah beliau berkata-kata : “setelah 79 tahun aku berjuang # dalam masa hidupku dengan memuji Allah aku telah beramal Lihatlah madrasah-madrasah yang ada di seluruh penjuru negeri menjadi saksi # bahwasannya ucapan dan perbuatanku tidak sia-sia. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat uang baik dan menempatkannya di sisi Nabi pilihan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top