Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

Bayarlah Utang agar Hidup menjadi Tenang

Khutbah ini mengajak jamaah untuk merenungi pentingnya membayar utang dengan niat dan komitmen yang kuat. Mengingat dampak besar utang dalam kehidupan di dunia dan akhirat, penting bagi setiap Muslim untuk bertanggung jawab atas setiap utang yang dimilikinya, baik terhadap sesama manusia maupun kepada Allah.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Menjadi keniscayaan bagi kita selaku hamba Allah SWT untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang tak terhitung yang kita terima dalam setiap hembusan nafas. Nikmat ini harus terus kita syukuri bi-qawli Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, seraya diiringi syukur dalam hati berupa penguatan komitmen memanfaatkan nikmat untuk beribadah, dan diwujudkan dalam tindakan amal baik agar kita tidak menjadi golongan orang-orang yang kufur nikmat.

Di antara buah dari rasa syukur adalah meningkatnya ketakwaan kita kepada Allah SWT melalui kesadaran untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, pada kesempatan yang mulia ini, mari kita tingkatkan rasa syukur dan ketakwaan kepada Allah serta senantiasa berkomitmen menjalankan misi utama hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah.

Allah berfirman dalam QS Adz-Dzariyat: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Dalam kehidupan di dunia ini, kita tidak bisa lepas dari yang namanya kebutuhan, khususnya kebutuhan materi untuk bisa bertahan hidup. Berbagai upaya mesti kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan kita, lebih-lebih kita memiliki keluarga yang menjadi tanggung jawab kita untuk diberi nafkah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga, kita diwajibkan bekerja dan tidak boleh berpangku tangan saja alias bermalas-malasan.

‘Abdullah bin Mas’ud tidak suka kepada orang yang bermalas-malasan, tidak bekerja untuk mencari nafkah, tidak juga beramal saleh. Keterangan ini disebutkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab az-Zuhd:

إِنِّي لَأَمْقَتُ الرَّجُلَ أُرَاهُ فَارِغًا، لَا فِي أَمْرِ دُنْيَاهُ وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَتِهِ

Artinya: “Sungguh aku marah kepada orang yang menganggur, tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat.” (HR Abu Dawud dalam az-Zuhd).

Namun, Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Terkadang kita menemukan kondisi di mana kebutuhan kita melebihi dari penghasilan yang kita dapatkan dari pekerjaan yang kita lakukan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan itu, kita harus mencari solusi lain di antaranya dengan cara berutang. Tindakan utang ini diperbolehkan dalam agama Islam namun dengan berbagai tata cara dan etika yang harus diperhatikan.

Di antara etika saat kita akan berutang adalah berniat dan bertekad untuk membayarnya. Jangan sampai kita berutang kepada orang lain namun dengan niat tidak akan mengembalikannya. Tindakan seperti ini sangat tidak disenangi oleh Rasulullah. Allah pun akan membalasnya dengan kebinasaan. Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari

 

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ

 

Artinya: “Siapa pun yang mengambil harta-harta manusia (berutang) dengan niatan ingin melunasinya, Allah akan melunaskannya. Dan siapa pun yang berutang dengan niat ingin merugikannya, Allah akan membinasakannya.” (Hadits riwayat Imam al-Bukhari)

Karena utang adalah mengambil hak orang lain, maka ketika kita berutang dan tidak membayarnya, maka kita termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil dan ini jelas dilarang oleh Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

 

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

Artinya: “Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 188)

Etika selanjutnya yang perlu kita perhatikan adalah komitmen membayar utang jika sudah waktunya membayar. Kita tidak boleh menunda-nunda dalam membayar utang karena itu adalah sebuah bentuk kezaliman pada orang yang telah membantu kita. Dalam Kitab Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah dijelaskan:

 

مِنْ آثَارِ الاِسْتِدَانَةِ وُجُوبُ الْوَفَاءِ عَلَى الْمُسْتَدِينِ عِنْدَ حُلُول الأَجَل، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ} وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَطْل الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

 

Artinya: “Efek dari utang piutang, bagi orang yang berutang wajib membayarnya apabila sudah jatuh tempo karena sesuai dengan firman Allah ‘memberikannya dengan baik’ dan berdasar hadits Nabi saw: ‘Penundaan membayar utang bagi orang yang mampu membayarnya, merupakan sebuah kezaliman.’”

Jangan sampai ketika saatnya kita harus membayar utang, dan orang yang memberikan utang datang untuk mengambil haknya atau menagih, kita malah menghindar atau malah marah-marah dan tersinggung. Kita harus menyadari bahwa itu adalah hak dia dan menjadi kewajiban kita untuk membayarnya. Jika kita lebih galak dari yang menagih utang, berarti kita sudah tidak punya komitmen untuk membayar utang. Naudzubillah min dzalik.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Saat kita berani berutang, maka di situ pula kita seharusnya berani untuk membayar atau mengembalikannya. Ketika kita selalu menghindar dari yang menagih utang kepada kita, di situlah kita mulai hidup di bawah bayang-bayang ketidaktenangan. Ketidaktenangan dalam hidup tentu akan berdampak besar pada kualitas aktivitas kita.

Bukan hanya di dunia, tanggungan utang yang tidak dibayar juga akan berdampak pada ketidaktenangan dalam kehidupan di alam kubur dan akhirat kelak. Saat kita punya utang yang tidak terbayar, besok utang tersebut akan diminta gantinya dengan amal baik yang kita lakukan selama di dunia sebesar hitung-hitungan utang tersebut.

Rasulullah saw pun dalam sejarahnya pernah enggan untuk menyalati seseorang yang masih memiliki utang sampai akhirnya ada orang lain yang melunasinya. Dalam suatu hadits, Nabi saw bersabda:

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

Artinya: “Siapa pun yang rohnya berpisah dari jasad sedangkan ia terbebas dari tiga perkara ini, ia pasti akan masuk surga. Yaitu terbebas dari sombong

, terbebas dari khianat, dan terbebas dari utang.” (HR Ibnu Majah)

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dari hadits di atas dapat kita ketahui betapa pentingnya kita menjaga diri dari utang agar kelak kita bisa mendapatkan kehidupan akhirat yang lebih baik. Oleh karena itu, jika kita sudah punya utang, maka berkomitmenlah untuk membayarnya, jangan ditunda-tunda apalagi sampai tidak mau membayar utang.

Semoga khutbah ini dapat menjadi pengingat kita bersama untuk senantiasa membayar utang dan menjaga hak orang lain agar hidup kita menjadi lebih tenang di dunia dan akhirat. Demikian yang dapat saya sampaikan pada khutbah pertama ini. Kita lanjutkan khutbah ini pada khutbah yang kedua nanti. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan bagi kita dalam setiap langkah kita. Aamiin.

 

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

### Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ ۰ فَيَا عِبَادَ ﷲ… اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا وَلوْ بِشِقِّ تَمْرةٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ …ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ،  اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ  اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ  عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

.

**Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,**

Sebagai penutup dari khutbah ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah untuk selalu berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Mari kita bersungguh-sungguh dalam mengelola harta dan utang kita dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Ingatlah bahwa setiap utang yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawabannya baik di dunia maupun di akhirat.

Kepada siapa yang masih memiliki utang, segeralah melunasinya. Jangan menunda-nunda karena itu adalah bentuk kezaliman. Kepada siapa yang telah menolong dengan memberikan utang, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan pahala yang berlipat ganda.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات، وقاضى الحاجات، يا أرحم الراحمين. اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمر أعداء الدين، وانصر عبادك الموحدين، واحم حوزة الدين يا رب العالمين.

اللهم اجعلنا لك ذاكرين، لك شاكرين، لك مطيعين، إليك مخبتين، إليك أواهين منيبين. اللهم تقبل توبتنا، واغسل حوبتنا، وأجب دعوتنا، وثبت حجتنا، واهد قلوبنا، وسدد ألسنتنا، واسلل سخيمة صدورنا.

اللهم آت نفوسنا تقواها، وزكها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Hadirin sekalian, dirikanlah shalat.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top