Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

KHUTBAH EID ADHA – Urgensi Agama Dan Keluarga didalam Membangun Peradaban Sebuah Bangsa yang Bermartabat

اللهُ أًكبَر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

الله أكبر عَدَدَ مَا أَحْرَمَ الحُجاجَ مِنَ الْمِيْقَاتْ، وَكُلَّمَا لَبَّى الْمُلَبُّوْنَ وَزِِيْدَ فِي الْحَسَنَاتْ، الله أكبر عَدَدَ مَا دَخَلَ الْحُجَّاجُ مَكَّةَ وَمِنَى وَمُزْدَلِفَةَ وَعَرَفَاتْ، الله أكْبَر عَدَدَ مَا طَافَ الطَّائِفُوْنَ بِالْبَيْتِ الْحَرَامِ وَعَظَّمُوْا الْحُرُمَاتْ، الله أكبر عَدَدَ مَنْ سَعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنَ الْمَرَّاتْ، وَاللهُ أكْبَر عَدَدَ مَا حَلَقُوْا الرُّؤُوْسَ تَعْظِيْمًا لِرَبِّ الْبَرِيَّاتْ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ سَهَّلَ لِعِبَادِهِ طُرُقَ الْعِبَادَةِ وَيَسَّرْ، وَتَابَعَ لَهُمْ مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ لِتَزْدَانَ أَوْقَاتِهِمْ بِالطَّاعَاتِ وَتَعَمَّرْ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ حُجَّاجِ بَيْتِهِ الْمُطَهَّرْ، وَلَهُ الْحَمْدُ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ وَأَكْثَرْ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصَرْ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى آلَائِهِ الَّتِيْ لَا تُقَدَّرْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ مَلِكٌ فَقَهَّرْ، وَتَأَذَّنَ بِالزِّيَادَةِ لِمَنْ شَكَرْ، وَتَوَعَّدَ بِالْعَذَابِ مَنْ جَحَدَ وَكَفَرْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْوَجْهِ الْأَنْوَرْ، وَالْجَبِيْنُ الْأَزْهَرْ، طَاهِرُ الْمَظْهَرِ وَالْمُخْبَرْ، وَأَنْصَحُ مَنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَبَشَّرَ وَأَنْذَرْ، وَأَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَزَكّى وَصَامَ وَحَجَّ وَاعْتَمَرْ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَدِيْدًا وَأَكْثَرْ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْكُمْ مِنْ نِعْمَةِ الدِّيْنِ الْعَظِيْم، الَّذِيْ أَكْمَلَهُ لَكُمْ، وَأَتَمَّ عَلَيْكُمْ بِهِ النِّعْمَةْ، وَرَضِيَهُ لَكُمْ دِيْنَا، قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتَمَّمْتْ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنَا.

Jama’ah Shalat Idul Adha yang di muliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pada Pagi yang penuh berkah dan kebahagiaan di hari raya qurban ini, ketika jutaan manusia sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, ketika jutaan ternak siap di qurbankan, marilah sejenak kita merenungi kembali posisi kita di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala dan sesama manusia, sudahkah kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, selalu ingat kepada Allah serta membersihkan hati dari prasangka prasangka buruk kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sudahkah kita memperbaiki diri dalam berinteraksi kepada sesama, bertutur kata dan berakhlak yang baik, sehingga kita senantiasa diliputi ketenangan batin serta kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Ketenanangan dan kebahagiaan tidaklah mungkin akan di capai kecuali dengan mengikuti rambu rambu yang di ajarkan oleh agama, semakin jauh manusia dari agama maka semakin jauh pula dirinya dari rasa tenang dan bahagia, dan sebaliknya, semakin dekat dia dengan agama, maka semakin dekat pula dirinya dengan rasa ketenangan dan kebahagiaan. Begitu pula dengan kemajuan dan peradaban suatu bangsa, semakin jauh suatu bangsa dari norma norma agama, maka akan semakin carut marut para penduduknya, serta tidak akan mungkin menjadi bangsa yang bermartabat, bermoral dan taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab hanya agama lah yg akan membimbing manusia dgn sebaik baik bimbingan, dan hanya dengan agama pula manusia bisa berjalan di jalan yang benar untuk mencapai kesuksesan, kebahagian dan kebenaran yang di Ridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. Apabila kita mencari hal tersebut di luar dari agama, sudah di pastikan tidak akan terwujud, sebab tidak ada aturan dan hukum apapun di dunia ini yang melebihi hukum dan aturan yg di turunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dialah yang maha mengetauhui segala aturan yg terbaik untuk para hambanya, dan dialah yang menyempurnakan agama ini untuk kemaslahatan dan kebahagiaan umat manusia, di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah ku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku bagimu, dan telah aku ridhoi islam sebagai agamamu”.

FAYA IBADALLAH…Tetaplah berpegang kepada agama, tanamkanlah agama pada diri, keluarga, serta orang orang di sekeliling kita. Sebab hanya agama yg bisa membimbing dan membawa kita semua kepada kebahagiaan yang hakiki, tidaklah ada kebenaran kecuali kebenaran yang datang dari agama, serta tidaklah ada agama yang hak kecuali Islam dan Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan menerima agama apapun selain islam.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain islam, dia tidak akan di terima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi”.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

Marilah kita belajar dari episode perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim Alaihissalam, sebagaimana yang di riwayatkam oleh Imam Bukhari di dalam kitabnya sahih Al-bukhari. Tatkala Nabi Ibrahim Alaihissalam membawa istrinya beserta anaknya Ismail Alaihissalam yang sedang disusuinya, kemudan ia meletakkannya di Baitullah, dan Makkah pada waktu itu belum ada manusia dan belum ada air. Nabi Ibrahim meletakkan mereka berdua disana. Ia bekali mereka dengan sekantung kurma dan sekantung air dan kemudian ia segera bergegas pergi meninggalkan mereka. Kemudian Ummu Ismail mengikutinya sambil bertanya “Wahai Ibrahim, akan kemana kau pergi meninggalkan kami di lembah ini tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa ?”. Diucapkannya kalimat itu berulang-ulang, namun Nabi Ibrahim tak juga menoleh. Akhirnya Ummu Ismail bertanya :

آللهُ الَّذِيْ أَمَرَكَ بِهَذَا؟

 ALLAH kah yang menyuruhmu melakukan ini ?

قَالَ نَعَمْ

 Ia menja-wab : “Ya”.

قَالَتْ: إِذَنْ لَا يُضَيِّعَنَا

Ummu Ismail berkata : “jika demikian, tentulah Allah tidak akan sia-siakan kami”.

kemudian ia kembali dan Ibrahim berangkat meninggalkan mereka. Sesampainya di sebuah bukit, yang mereka tak lagi melihatnya, ia hadapkan wajahnya ke Baitullah, berdoa seraya mengangkat kedua tangannya:

 رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ * إبراهيم : 37.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebaha-gian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Lihatlah,,, betapa lurusnya keluarga ini memandang perintah Allah. Betapa ringannya mereka melaksanakan titah agung agama Allah. Mereka mengutamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi.

Dari ketiga permintaan, ternyata yang pertama dimintanya adalah agar keturunannya menjadi penegak shalat, kemudian untuk menopang da’wah ia meminta mereka dicintai ummat manusia, barulah permintaan ketiga agar Allah memberikan mereka rezeki. Padahal keadaan sangatlah sulit, tak ada sanak kerabat bahkan manusia, tak ada air dan sumber makanan. Hanya mereka berdua, seorang perempuan yang baru melahirkan dan bayi kecil, yang baru beberapa belas atau beberapa puluh tahun kedepan diangkat menjadi rasul.

Dimana keluarga modern hari ini dengan keturunan yang sangat terjaga dan tercukupi, bahkan dimanjakan makan minum mereka dibandingkan mereka yang serba kekurangan dan jauh dari kesenangan ? Lihatlah bedanya keluarga dunia, benda dan nafsu di bandingkan keluarga akhirat, iman dan akhlaq. Apa yang mampu dihasilkan keluarga modern dengan kecukupannya di bandingkan keluarga para Rasul dan orang-orang saleh dalam kekurangan mereka. Soalnya bukan soal kaya atau miskin, tetapi keterikatan dan kesetiaan mereka kepada Agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Apa yang dipanen sebuah bangsa muslim yang besar ini, saat banyak orang tua hanya berfikir ketika mendaftarkan anaknya ke sekolah, semoga ia kelak punya kedudukan yang basah bila jadi pejabat, menjadi orang pintar yang dapat kaya dalam waktu singkat atau menjadi santri yang pandai berceramah sehingga laris dan mudah menghimpun pengikut serta segala kekayaan yang menyusulnya.

Betapa rentannya semua ini menghadapi konflik horizontal, saling bunuh, saling menghancurkan satu sama lain, pemanjangan derita rakyat dengan KKN baru, ketidak pedulian terhadap munculnya berbagai kemunkaran, maraknya perjudian online, jutaan mangsa narkoba yang melumpuhkan bangsa ini, pelacuran dengan alasan klasik kesulitan hidup. Semua ini bisa terjadi di sebabkan jauhnya sebuah bangsa dari norma norma agama.

Sebuah masyarakat adalah cermin keluarga didalamnya. Kepemimpinan yang sehat, selalu berfikir bagaimana melayani, mengayomi dan mendidik bangsa ke arah kemuliaan. Bukan mencengkeram mereka dengan kejam dengan alasan pendewasaan, pengamanan atau perlindungan, tidak pula membiarkan mereka bebas tanpa kendali dengan alasan apapun, baik Hak Asasi Manusia (HAM), demokratisasi ataupun pemberdayaan masyarakat.

Sesungguhnya dari berbagai pensikapan bangsa terhadap para Rasul mereka, kita dapatkan pelajaran dan rambu-rambu sangat berharga. Bila sikap ikhlas, ketundukan diri dan pengorbanan, menjadi jiwa bangsa, maka generasi yang ada akan mendapatkan begitu banyak keberkahan. Lihatlah cermin perempuan terdidik seperti Ummu Ismail Alaihissalam,  yang dengan yakin mengatakan إِذَنْ لَا يُضَيِّعَنَا (Kalau begitu Ia tak akan sis-siakan kami)”. Dari rahim dan asuhan mereka, lahirlah generasi Ismail AS yang dengan yakinnya menjawab pertanyaan ayahnya Nabi Ibrahim mana kala Ia mendapatkan wahyu untuk menyembelih anaknya Ismail, sebagai mana di kisahkan di dalam Al Qur’an:

قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ * الصافات: 102.

“Nabi Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapak-ku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

Jawban anak kepada sang ayah yang sangat luar biasa, jawaban yg penuh dengan kerendahan diri dan penuh adab, tanpa bantahan dan tanpa uacapan kasar sedikitpun keluar dari lisan ismail, sekalipun nyawa yang harus di korbankan. Demikianlah didikan keluarga yang faham dengan agama, didikan yang menanamkan moral moral agama di dalam kehidupannya, sehingga tak heran apabila menghasilkan generasi yg patuh dan taat kepada aturan aturan agama, tidak ragu menjalankan apapun yang datang dari agama Allah, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Demikian pula dengan sang ayah, yang tidak segan segan menyampaika yang hak kepada sang anak, sekalipun Ia tahu bahwa hal tersebut sangatlah berat dan bertentangan dengan nafsu dan kodrat manusia, namun ia faham, bahawa apapun yang datang dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah hak, dan yang datang dari selain Allah adalah Batil. Begitu pula ia faham bahwa Allah tidak akan menyianyiakan hambanya serta tidak mungkin menjerumuskan hambanya ke dalam kebinasaan. Dengan keyakinan inilah sehingga ia menyampaikan dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan tanpa sedikit keragu raguan.

Demikianlah sebuah keluarga, apabila menjadikan Agama di atas segala galanya, menjadikan aturan aturan agama Allah di atas aturan aturan manusia, dan sahwat pribadinya, maka Ia akan mudah menjalankan apapun yg di perintahkan oleh agama dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah tidak memerintahkan kepada para hambanya kecuali untuk kemaslahatan dan kebahgiaan di dunia dan akhirat.

Ma’asyriol Muslimin wal muslimat Rahimakumullah

Bila kebodohan dan nafsu telah menguasai kehidupan suatu masyarakat, maka mereka lebih suka memilih pola hidup materiallistik dan hedonik, semua demi benda dan kesenangan. Tujuan-tujuan luhur menjadi kabur, nilai dan akhlak mulia menjadi luntur, persaudaraan, kasih sayang dan kesetiaan menjadi hancur.

Bila hukum, undang-undang dan para penegak hukum begitu keras kepada pelanggar lalu lintas, Kalau para polisi menangkap pengendara sepeda motor yang tak menggunakan helm, dengan dalih perlindungan batok kepala rakyat, lebih beralasan lagi bila mereka bertindak tegas melindungi isi yang ada dibalik batok kepala itu dari segala yang merusaknya, yaitu dengan memerangi sekeras-kerasnya tayangan tayangan, siaran atau penerbitan film dewasa, memerangi para koruptor perusak tatanan negara yang telah menyengsarakan rakyat di negeri yang kaya raya ini, memerangi pemikiran-pemikiran liberal yang semakin liar dan kebablasan, yang membuat bangsa ini jauh dari norma-norma agama.

Sebab, apabila Jutaan rakyat terutama generasi mudanya telah bergelimang dalam narkoba, perjudian, zina dan berbagai sikap arogan dihadapan Allah Rabbul Jalal, apabila kekuasaan, kekayaan dan berbagai ni’mat dilimpahkan kepada suatu bangsa, pemerintah dan rakyatnya, kemudian mereka jadikan nikmat tersebut sebagai kesombongan, serta perhiasan dan kebanggan, maka Da’wah kebajikan akan dianggap sebagai gangguan, amar ma’ruf nahi munkar dianggap makar, karena semua tak suka dihalangi dari aksi bunuh diri massal dalam maksiat yang terlaknat itu. Na’udzu billahi min dzalik

Gambaran inilah yang di lakukan umat-umat terdahulu kepada para Nabi dan Rasul, mereka mengejek dan mengucilkan para Nabi, menfitnah dan mengintimidasi, membunuh dan mengusir dari tanah air mereka, suatu hal yang tak pantas dilakukan terhadap manusia-manusia jujur di tengah bangsanya, yang hewanpun tak pernah mendapat perlakuan zalim dari mereka.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Peran agama dan ibu dirumah tangga sangat strategis dalam membentuk moral peradaban bangsa, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam da’wah dan pendidikan, Bentukan baik atau buruk, amanat atau khianat, iman atau kufur, sangat terkait dengan sikap dan kiprah mereka.

Ibunda nabi Ismail, ibunda kandung nabi Musa yang melahirkan, menyusui serta merawatnya dan ibunda asuh nabi Musa, yang merawatnya dan aktif membelanya dari berkali-kali rencana pembunuhan oleh Firaun, sejak bayi sampai menjadi nabi, semua menunjukkan adanya ta’tsir (pengaruh) berkesinambungan pada anak nasab ataupun anak asuh. Demikian halnya peran pendidik di tubuh bangsa sebagai tanggung jawab para pemimpin dan pemimpin tertinggi, apabila telah menyimpang dari jalan yang lurus, menyimpang dari koridor agama, bersikap seperti istri nabi Nuh Alaihi Salam yang mengkhianati ajaran suaminya, maka anak-anak bangsa akan menjadi seperti anak nabi Nuh yang menolak bergabung dalam bahtera penyelamat  tatkala ia memanggil anaknya

يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.

 

Kemudian anaknya menjawab

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ

Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”.

وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ * هود: 41-42.

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan

Demikianlah gambaran kehidupan sebuah keluarga di dalam mendidik dan memberikan pengaruh yang sangat luar biasa kepada generasi mereka, dan betapa pentingnya peran sang ibu dan agama di dalam mengkader anak anaknya, sehingga menjadi generasi yang patuh dan ta’at kepada agama Allah Subhanahu Wata’ala.

Oleh sebab itu, pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita sama-sama memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar selalu di berikan hidayah dan kekuatan untuk selalu ta’at kepadaNya, menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-larangannya serta dapat mengamalkan ajaran agama secara kaaffah di dalam mendidik dan membimbing generasi kita.

Dan kita memohon semoga Allah jauhkan kita semua dari sifat-sifat orang yg menentang kebenaran, dan menjadikan kita hamba yang selalu menerima dan menjalankan kebenaran.

Semoga Allah melindungi keluarga kita dari fitnah dunia yang mengantarkan kepada kehancuran dan mendekatkan keluarga-keluarga kita dari kebenaran serta selalu di berikan kemudahan dan kekuatan di dalam menjalankan apa yg di perintahkan Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top